Ikuti Kami

Ida Nurlaela: Menuju Senayan Bukan Hasil Kampanye Instan Tapi Buah Investasi Sosial

”Saya memiliki 15 jabatan ketua selama menjadi Ibu Bupati dua periode. Itu menjadi modal saya melangkah."

Ida Nurlaela: Menuju Senayan Bukan Hasil Kampanye Instan Tapi Buah Investasi Sosial
Anggota Komisi VI DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Barat X, Ida Nurlaela Wiradinata.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VI DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Barat X, Ida Nurlaela Wiradinata, menegaskan keberhasilannya melenggang ke Senayan bukan hasil kampanye instan, melainkan buah dari “investasi sosial” yang ia bangun selama tujuh tahun terakhir bersama masyarakat.

”Saya memiliki 15 jabatan ketua selama menjadi Ibu Bupati dua periode. Itu menjadi modal saya melangkah,” ujar Ida, dikutip Rabu (1/4/2026).

Dapil Jawa Barat X yang meliputi Kabupaten Ciamis, Kuningan, Pangandaran, dan Kota Banjar diakuinya bukan medan yang ringan. Namun, kedekatan emosional dengan konstituen melalui berbagai organisasi yang dipimpinnya menjadi kekuatan utama, terutama saat mendampingi suaminya, Jeje Wiradinata.

Meski berstatus sebagai istri kepala daerah, Ida memilih melampaui peran seremonial. Saat menjabat Ketua Dekranasda, ia berhasil mendorong kerajinan anyaman tas berbahan rumput gunung atau Hata dari Pangandaran menembus pasar Eropa, seperti Belanda dan Swiss, hingga meraih penghargaan Jabar Award.

“Paling berat itu membangkitkan semangat kreatif. Kami memfasilitasi mulai dari pelatihan produk, inovasi, hingga menggratiskan perizinan dan sertifikasi halal,” tuturnya.

Di bidang kesehatan, perannya sebagai Bunda Stunting juga menghasilkan capaian signifikan. Ia menggagas gerakan konsumsi tanaman kelor sebagai solusi pencegahan stunting bagi anak-anak usia dini di wilayahnya.

Dalam kontestasi legislatif, Ida memilih pendekatan yang berbeda dengan tren politik transaksional. Ia hanya berkampanye efektif selama tiga bulan tanpa mengandalkan kekuatan uang.

“Kami jelaskan pakem kami adalah partai wong cilik. Saya tidak menganggap diri saya harus menang, saya kembalikan pilihannya kepada masyarakat,” ucap Ida.

Ia juga mengaku tidak mendapatkan fasilitas istimewa meskipun bersuamikan seorang bupati sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Pangandaran. Bahkan, ia harus bersaing dengan calon legislatif lain yang memiliki modal besar dan penguasaan teknologi yang lebih maju.

Hasil perolehan suara yang signifikan menjadi bukti bahwa kerja sosial melalui program Desa Pelopor selama tujuh tahun lebih membekas di hati masyarakat dibandingkan janji kampanye sesaat.

Kini di parlemen, Ida membawa visi besar untuk daerah asalnya, termasuk menjadikan Pangandaran sebagai destinasi wisata berkelas dunia dengan dukungan pengembangan konektivitas udara.

”Tugas saya nanti adalah memastikan anggaran bisa digelontorkan ke dapil, meskipun kita harus tetap kritis sebagai penyeimbang pemerintahan,” ujarnya merujuk pada konstelasi politik nasional.

Di tengah sorotan publik terhadap integritas pejabat, Ida menegaskan komitmennya untuk tetap sederhana dan menjaga amanah sebagai wakil rakyat.

”Saya ingin hidup sederhana dan menyederhanakan hidup. Target saya bukan soal mau jadi apa nanti, tapi bagaimana berbuat agar bermanfaat bagi masyarakat luas,” pungkasnya.

Quote