Ikuti Kami

Komisi X DPR Usul Tes Minat Bakat dan EQ Dimulai Sejak SMP untuk Penjurusan SMA

Menurut My Esti, penerapan TKA harus mempertimbangkan ketimpangan kualitas dan kondisi pendidikan di setiap daerah.

Komisi X DPR Usul Tes Minat Bakat dan EQ Dimulai Sejak SMP untuk Penjurusan SMA
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esti Wijayati.

Jakarta, Gesuri.id — Wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esti Wijayati, mengusulkan agar pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tidak sekadar fokus pada penambahan mata pelajaran. 

Ia mendesak pemerintah untuk memasukkan tes minat bakat serta kecerdasan emosional (Emotional Quotient/EQ) bagi siswa sejak jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Menurut My Esti, penerapan TKA harus mempertimbangkan ketimpangan kualitas dan kondisi pendidikan di setiap daerah. Standar penilaian tidak bisa disamaratakan antara daerah tertinggal dan daerah maju.

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

"Berbicara mengenai TKA, kita tentu tidak bisa menyamakan satu daerah dengan daerah lain. Mungkin perlu dipikirkan soal grid-nya (skala penilaian). Kemampuan siswa di daerah sangat tertinggal dengan daerah maju pasti berbeda, begitu pula dengan fasilitasnya," ujar My Esti dalam Rapat Kerja Komisi X DPR RI bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (19/5).

Saat ini, TKA untuk jenjang SD dan SMP berfokus pada dua mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia dan Matematika. My Esti mengingatkan agar evaluasi kurikulum ke depan diarahkan pada pemetaan potensi siswa, bukan justru menambah beban mata pelajaran baru.

Ia kemudian menyoroti kurikulum SMA Kelas 10 yang dinilai masih membebani siswa. Pada tingkat tersebut, seluruh siswa diwajibkan mempelajari materi sains yang rumit, padahal belum tentu relevan dengan rencana penjurusan mereka selanjutnya.

"Kita melihat di SMA kelas 10, materi seperti Fisika, Kimia, Biologi, hingga Matematika tingkat lanjut seperti sinus dan kosinus, itu tidak akan digunakan oleh anak-anak yang nantinya mengambil jurusan Bahasa atau IPS. Beban mereka masih sangat berat karena harus mempelajari sekian banyak mata pelajaran," urainya.

Baca: Ganjar Pranowo Tak Ambil Pusing Elektabilitas Ditempel Ketat

Sebagai solusi, politisi Fraksi PDI Perjuangan ini mengusulkan agar tes EQ dan minat bakat sudah diselesaikan di bangku SMP. Hasil tes tersebut nantinya menjadi kompas atau dasar penjurusan langsung saat siswa menginjakkan kaki di bangku SMA.

"Tidak perlu menambah mata pelajaran di SMP, cukup tambahkan tes EQ atau tes minat bakat. Jadi, begitu masuk SMA kelas 10, siswa sudah ditempatkan sesuai dengan jurusan, minat bakat, dan EQ-nya," tegas My Esti.

Langkah ini diyakini akan membuat proses pembelajaran di tingkat SMA jauh lebih efektif dan efisien. Siswa bisa langsung mengasah potensi spesifik tanpa harus membuang energi untuk materi yang tidak mereka minati.
"Tidak semua anak harus belajar Fisika, Kimia, atau Biologi secara mendalam, yang pada akhirnya tidak akan mereka gunakan lagi di kelas 11 dan 12," pungkasnya.

Quote