Ikuti Kami

Logam Berat dan BBM dari Pipa Pertamina Penyebab Matinya 300 Pohon Mangrove di Benoa

Kematian mangrove jenis Sonneratia alba (prapat), Rhizophora apiculata (bakau), dan Avicennia marina (api-api) itu terungkap.

Logam Berat dan BBM dari Pipa Pertamina Penyebab Matinya 300 Pohon Mangrove di Benoa
Anggota Komisi III DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Parta.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi III DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Parta, mengungkap dugaan penyebab kematian sekitar 300 pohon mangrove di kawasan sisi barat pintu masuk Tol Bali Mandara bagian utara, tepatnya di Jalan Raya Pelabuhan Benoa, Kelurahan Pedungan, Denpasar Selatan, Bali. 

Ia menyebut hasil penelitian mengarah pada dugaan pencemaran logam berat dan bahan bakar minyak (BBM) yang berkaitan dengan pipa milik Pertamina.

“Tim peneliti dari Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana yang dikoordinatori oleh Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga, S.P., M.Si., melakukan diagnosis penyakit tumbuhan ke lokasi. Diagnosis awal mengindikasikan bahwa tidak ada infeksi patogen penyebab penyakit di lapangan, namun tanaman sakit dan mati karena terserang penyakit abiotik, salah satunya karena keracunan logam berat dan senyawa hidrokarbon (minyak). Identifikasi awal juga menunjukkan terdapat pipa Bahan Bakar Minyak (BBM) milik Pertamina yang melewati area itu. Dari data koordinasi, terungkap bahwa antara September hingga November 2025, ada kegiatan perbaikan atau perawatan pipa pada jalur distribusi dari Pelabuhan Benoa ke Pangkalan Pertamina Pesanggaran,” kata I Nyoman Parta, dikutip Jumat (27/2/2026).

Kematian mangrove jenis Sonneratia alba (prapat), Rhizophora apiculata (bakau), dan Avicennia marina (api-api) itu terungkap berdasarkan hasil kajian Tim Peneliti Universitas Udayana (Unud) yang melakukan diagnosa kesehatan tanaman dan studi pustaka bertajuk Analisis Strategis Degradasi dan Krisis Ekosistem Mangrove di Taman Hutan Raya Ngurah Rai: Kontaminasi Hidrokarbon di Bali Selatan.

Parta merinci, laporan penelitian menyebutkan terjadi rembesan minyak yang masuk ke dalam substrat mangrove dan diduga proses pembersihan tidak dilakukan secara menyeluruh setelah aktivitas teknis perawatan pipa tersebut.

“Meskipun Pertamina Patra Niaga melakukan pemeriksaan visual pada 21 Februari 2026 dan tidak menemukan lapisan minyak di permukaan air, para ahli ekologi menekankan bahwa kontaminasi hidrokarbon di dalam ekosistem mangrove biasanya masih ada di dalam tanah (sedimen). Minyak yang masuk ke dalam pori tanah akan menutupi akar mangrove dan bersifat beracun. Senyawa aromatik yang ada dalam bahan bakar minyak bisa merusak membran sel tanaman, mengganggu cara tanaman menyerap nutrisi, dan menyebabkan kematian pohon dalam beberapa minggu setelah terpapar,” ucap Parta.

Berdasarkan penelitian lapangan hingga Februari 2026, spesies terdampak mencakup Sonneratia alba dengan batang kering dan rapuh seluas estimasi 6 are, Rhizophora apiculata dengan daun menguning serentak di area sekitar 60 are, serta Avicennia marina dengan akar membusuk atau kering di Blok Barat Tol Bali Mandara.

Ketidaksesuaian antara hasil pemeriksaan visual Pertamina dengan fakta kematian tanaman di lapangan mendorong dilakukannya investigasi forensik lingkungan yang lebih mendalam. Parta menilai kebocoran kecil pada pipa bawah tanah dapat berdampak besar karena polutan terperangkap di area akar dan tidak terbawa arus laut, terlebih kondisi aliran air yang melambat akibat keberadaan jalan tol membuat polutan terkumpul di titik kebocoran.

“Berdasarkan peninjauan menyeluruh terhadap data yang ada, penyebab utama matinya tanaman mangrove di daerah Bali Selatan adalah pencemaran oleh keracunan logam berat dan bahan bakar minyak (hidrokarbon). Ciri-ciri utama penyakit tumbuhan akibat faktor abiotik yang terlihat di lokasi sampel adalah pola kematian tanaman tidak sporadis dan cenderung pada populasi blok yang sama dan tidak menyebar. Untuk memastikan kandungan senyawa hidrokarbon yang terakumulasi pada area rhizosfer tanaman mangrove, tim peneliti saat ini sedang melakukan analisis GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometry),” pungkasnya.

Quote