Jakarta, Gesuri.id – DPP PDI Perjuangan menggelar Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih dalam peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni di Halaman Masjid At Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Senin (1/6/2026).
Upacara berlangsung khidmat, diikuti anggota DPRD Fraksi PDI Perjuangan dari sejumlah daerah, pengurus DPC dan PAC se-DKI Jakarta, serta Satgas PDIP. Peserta tampak mengenakan seragam merah berbaris rapi.
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bertindak sebagai inspektur upacara. Prosesi diawali mengheningkan cipta, pengibaran bendera Merah Putih dengan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan pembacaan Pancasila oleh Ketua DPC PDIP Kota Sukabumi Fauzi, dan doa oleh Sekretariat PDIP Mugi Sugiadi. Sejumlah tokoh DPP hadir langsung: Ganjar Pranowo, Basuki Tjahja Purnama (Ahok), Tri Rismaharini, Sri Rahayu, Ribka Tjiptaning, Wiryanti Sukamdani, Charles Honoris, Darmadi Durianto, Deddy Sitorus, Mercy Chriesty Barends, Bintang Puspayoga, Yasonna Laoly, Yoseph Aryo Adhi Dharmo, dan Yuke Yurike. Ketua Umum Megawati Soekarnoputri mengikuti upacara secara daring.
Baca: Ganjar Pranowo Tegaskan Komitmennya Untuk Berantas KKN

Dalam amanat upacara, Hasto menyampaikan salam dari Megawati. Peringatan Hari Lahir Pancasila ke-81, kata Hasto, bukan sekadar seremoni. Ia melontarkan kritik tajam terhadap kondisi ekonomi dan fiskal yang dinilainya mengkhawatirkan—khususnya soal pelemahan rupiah dan belanja negara.
"Defisit transaksi berjalan pada kuartal pertama tahun 2026 dan keseimbangan primer yang negatif dalam APBN kita sangatlah mengkhawatirkan. Utang harus dibayar dengan utang, gali lubang tutup lubang," tegas Hasto di hadapan kader banteng.
Lebih lanjut, ia menyoroti pelemahan rupiah sebagai indikator masalah yang lebih dalam. "Terlebih dengan pelemahan rupiah akhir-akhir ini yang menggambarkan adanya persoalan yang bersifat struktural dan ada persoalan terkait dengan kepercayaan," ujarnya.
Menurut Hasto, usulan rekonsolidasi fiskal yang digagas PDIP melalui tema Fiscal Resilience (Ketahanan Fiskal) ternyata "masih diwarnai oleh berbagai bentuk belanja negara yang bersifat populis dengan harapan elektoral."
Kritik ini diperkuat dengan menyebut dampak nyata di masyarakat: "Berbagai persoalan kenaikan harga kebutuhan pangan rakyat, kemiskinan, sulitnya mencari lapangan pekerjaan, dan pemutusan hubungan kerja, kini telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan."

Baca: Ganjar Ajak Kader Banteng NTB Selalu Introspeksi Diri
Hasto tidak sekadar mengkritik dari sudut makro. Ia menegaskan bahwa kebijakan fiskal yang tidak berpihak pada rakyat kecil bertentangan dengan spirit Pancasila sebagai narasi pembebasan.
"Rekonsolidasi fiskal yang kami usulkan bukan sekadar teknis, tapi soal keberpihakan pada rakyat, bukan pada ambisi kekuasaan," katanya.
Upacara ditutup dengan penampilan Marching Band Red Bull PDIP binaan Ketua DPP bidang Kebudayaan Rano Karno. Hasto mengingatkan pesan Megawati di akhir amanat: "Jadilah banteng-banteng sejati yang membela setiap rakyat yang tertindas di seluruh lapisan Indonesia kita."

















































































