Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VIII DPR RI, Muhamad Abdul Azis Sefudin berharap pemerintah bisa membuat regulasi terkait pembatasan penggunaan media sosial pada anak menyusul masih ada kekerasan digital yang terjadi.
"Kenapa kita tidak dorong seperti di Australia, adanya regulasi pembatasan penggunaan gadget dan media sosial bagi anak. Ini penting sebagai langkah pencegahan agar anak-anak kita terlindungi dari dampak negatif dunia digital," kata dia dalam keterangannya, Rabu (28/1).
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Politikus PDI Perjuangan ini memandang, regulasi tersebut dibarengi dengan penguatan lainnya, serta pengawasan platform digital agar tercipta ekosistem digital yang aman bagi anak.
"Pencegahan tidak cukup hanya dengan aturan. Harus ada edukasi publik, sosialisasi, dan keterlibatan orang tua serta sekolah," ungkap Abdul Azis.
Dia mencontohkan, di daerah pemilihannya, Cianjur, Jawa Barat, konflik antar anak dan remaja kerap bermula dari interaksi di media sosial yang diakses melalui gawai.
"Di dapil saya, persoalan kekerasan digital terhadap anak cukup tinggi. Penggunaan gadget dan media sosial yang tidak terkontrol ini sering menjadi pemicu konflik di kalangan remaja," jelas Abdul Azis.
Karena itu, dia berharap pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), bisa berkoordinasi dengan Komdigi agar bisa merumuskan regulasi yang baik untuk melindungi anak di ruang digital.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
"Harus ada kajian serius dan langkah prioritas untuk menurunkan angka kekerasan digital terhadap anak. Negara tidak boleh kalah oleh dampak negatif teknologi," kata Abdul Azis.
Sebelumnya, Game online disinyalir menjadi salah satu alat yang dipakai jaringan terorisme saat merekrut anak dan pelajar sebagai target. Temuan itu memnbuat Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah mempertimbangkan melakukan pemblokiran.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal (Dirjen) Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, menjelaskan ada tahapan yang mesti terpenuhi sebelum akhirnya game online diblokir.

















































































