Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, menegaskan pentingnya pembangunan berbasis agro-maritim sebagai pilar kedaulatan pangan dan kesejahteraan masyarakat Maluku Utara dalam talkshow “Menatap Masa Depan Perikanan Maluku Utara” di Ternate..
“Ini menunjukkan betapa besar ruang yang masih bisa kita garap untuk kesejahteraan rakyat,” ujar Rektor Universitas UMMI Bogor ini, dikutip Selasa (14/4/2026).
Dalam paparannya, Prof. Rokhmin menyoroti besarnya potensi maritim Maluku Utara dengan wilayah laut mencapai sekitar 75 persen dari total luas daerah. Potensi lestari perikanan tangkap diperkirakan mencapai 517.000 ton per tahun, namun pemanfaatannya baru sekitar 61,65 persen pada 2024. Sementara itu, lahan perikanan budidaya seluas 81.317 hektare baru dimanfaatkan sekitar 0,62 persen.
Ia juga mengungkapkan sejumlah keunggulan Maluku Utara untuk investasi, di antaranya pertumbuhan ekonomi yang tinggi, posisi strategis dalam jalur logistik nasional, serta kekayaan sumber daya alam seperti nikel dan sektor ekonomi biru yang besar.
“Diperlukan strategi pembangunan yang lebih menyejahterakan rakyat secara berkelanjutan melalui pendekatan Agro-Maritim, yaitu integrasi pembangunan sektor pertanian dan kelautan berbasis inovasi dan hilirisasi,” tegasnya dalam paparannya yang berjudul “Pembangunan Agro-Maritim Berbasis Inovasi Untuk Peningkatan Daya Saing, Pertumbuhan Ekonomi Inklusif, Kedaulatan Pangan, Dan Kesejahteraan Masyarakat Maluku Utara Secara Berkelanjutan.”
Menurutnya, konsep agro-maritim bukan sekadar pendekatan akademis, melainkan strategi nyata untuk menyeimbangkan eksploitasi sumber daya alam dengan penguatan sektor pangan, perikanan, dan pertanian melalui inovasi teknologi dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Prof. Rokhmin juga menekankan empat syarat utama agar suatu wilayah dapat maju dan berdaulat, yakni peta jalan pembangunan yang holistik, kualitas sumber daya manusia unggul, stabilitas politik, serta kepemimpinan yang kuat dan kompeten.
“Data menunjukkan Maluku Utara masih mengalami defisit beras sekitar 138.450 ton per tahun dan sangat bergantung pada pasokan luar daerah seperti Surabaya dan Sulawesi Selatan,” tegasnya.
Di sektor perikanan, ia menilai pemanfaatan potensi masih belum optimal. Produksi perikanan tangkap yang sempat meningkat kini cenderung melambat dalam beberapa tahun terakhir.
“Produksi perikanan tangkap Maluku Utara masih kuat, tetapi cenderung melambat dalam tiga tahun terakhir,” ujar Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University ini.
Ia juga menyoroti berkurangnya jumlah nelayan secara signifikan serta dominasi armada tradisional yang menghambat peningkatan daya saing.
“Ini menunjukkan perikanan tangkap Maluku Utara masih ditopang armada skala kecil tradisional,” jelas mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu.
Menurutnya, tanpa dukungan modernisasi alat tangkap dan sistem produksi, potensi besar sektor perikanan sulit dimaksimalkan.
“Kita harus memastikan hasil tangkapan tidak hanya berhenti di dermaga, tetapi masuk ke rantai industri yang memberi keuntungan lebih besar bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan Penta Helix untuk mendorong inovasi dan penguatan daya saing daerah.
“Hanya dengan ekosistem inovasi yang terbangun melalui kolaborasi, Maluku Utara dapat meningkatkan daya saing, mencapai pertumbuhan ekonomi inklusif, kedaulatan pangan, dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” tandasnya.
Talkshow yang digelar di Halmahera Ballroom, Bela Hotel Ternate ini turut dihadiri Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos serta berbagai pemangku kepentingan, menjadi ruang strategis dalam merumuskan masa depan sektor perikanan dan pembangunan berkelanjutan di daerah tersebut.

















































































