Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS mendorong Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan (STPK) Matauli memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia (SDM) sektor kelautan melalui penguatan program studi yang ada serta pembukaan dua program studi baru.
Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara utama pada Kuliah Umum (Studium Generale) STPK Matauli bertema Positioning Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli serta Alumninya dalam Pembangunan Ekonomi Biru Menuju Indonesia Emas 2045, dikutip Selasa (21/7/2026).
"Indonesia memiliki semua modal dasar untuk menjadi negara maju, adil, makmur, dan berdaulat. Yang dibutuhkan adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikelola secara cerdas, berkelanjutan, dan berbasis ilmu pengetahuan sehingga mampu melahirkan bangsa yang tangguh, mandiri, dan inovatif," kata Prof. Rokhmin.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi negara maju pada 2045 dengan syarat mampu mengelola potensi kelautan secara berkelanjutan melalui konsep Blue Economy atau Ekonomi Biru yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan.
"Ekonomi biru adalah pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut dan perairan tanpa merusak lingkungan. Tujuan akhirnya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem laut bagi generasi mendatang," tegasnya.
Menurut Prof. Rokhmin, keberhasilan pembangunan ekonomi biru sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia. Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak lulusan yang memiliki kompetensi, integritas, kemampuan riset, inovasi, serta kepemimpinan untuk menjawab tantangan pembangunan maritim nasional.
Ia juga menyoroti besarnya potensi budidaya udang vaname di Kabupaten Tapanuli Tengah. Dengan luas lahan sekitar 5.000 hektare, kawasan tersebut diperkirakan mampu menghasilkan produksi hingga 500.000 ton per tahun atau sekitar 100 ton per hektare per tahun.
“Potensi pendapatan kotornya USD 2,5 miliar per tahun, nilai ekspor USD 2 miliar, serap 20.000 tenaga kerja on-farm dan 15.000 off-farm," ucap Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI).
Selain udang vaname, Prof. Rokhmin menyebut lobster dan rumput laut memiliki prospek besar sebagai penggerak ekonomi pesisir. Ia mengingatkan bahwa sekitar dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, sementara potensi ekonomi biru Indonesia mencapai sekitar USD 1,33 triliun per tahun, namun baru sekitar tujuh persen yang dimanfaatkan secara optimal.
“Bonus demografi dan Indonesia Emas 2045 hanya tercapai jika laut jadi tulang punggung. Ekonomi biru itu soal kedaulatan pangan, energi, lapangan kerja, dan devisa,” ujarnya.
Karena itu, ia menantang STPK Matauli agar mengambil peran lebih besar dalam mencetak SDM maritim yang unggul.
“Alumninya harus positioning sebagai panglima, bukan penonton. Cetak SDM yang paham budidaya, teknologi, logistik, hilirisasi, sampai blue carbon.”
Dalam pemaparannya, Prof. Rokhmin juga merekomendasikan penguatan tiga program studi yang telah dimiliki STPK Matauli, yakni Akuakultur, Teknologi Penangkapan Ikan, dan Sosial Ekonomi Perikanan. Selain itu, ia mengusulkan pembukaan dua program studi baru, yaitu Industri Pengolahan Perikanan dan Bioteknologi Perairan, serta Pariwisata Bahari.
“STPK Matauli sangat strategis karena di pesisir yang kaya SDA. Harus jadi pusat ilmu, inovasi, riset, dan pengembangan ekonomi biru pantai barat Sumatera,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya membangun kolaborasi melalui pendekatan Penta Helix, yakni sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan media dalam mengembangkan industri perikanan budidaya secara terpadu dari hulu hingga hilir. Menurutnya, komoditas seperti lobster, udang vaname, dan rumput laut memiliki prospek besar untuk dikembangkan di Tapanuli Tengah sehingga dapat menjadi penggerak ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Sementara itu, Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu mengapresiasi berdirinya STPK Matauli sebagai investasi besar dalam pembangunan sumber daya manusia di sektor kelautan dan perikanan.
"Kami siap berkolaborasi dengan STPK Matauli melalui berbagai program pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga pengembangan inovasi di bidang kelautan dan perikanan. Kami berharap STPK Matauli menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mewujudkan Tapanuli Tengah sebagai daerah maritim yang maju, mandiri, dan berdaya saing," ungkapnya.
Ketua Pengawas Yayasan Matauli, Fitri Krisnawati Tandjung, mengenang lahirnya gagasan mendirikan STPK Matauli sebagai bentuk kepedulian terhadap potensi maritim Tapanuli Tengah.
“Kampung kita pesisir, hidup dari laut, tapi dulu tak ada sekolah yang budidayakan hasil laut. Akbar Tandjung pernah ajak Prof Rokhmin diskusi, kenapa Tapteng tak punya kampus kelautan. Hari ini gagasan itu nyata, sudah wisuda 4 angkatan,” ujarnya.
Ketua Umum Yayasan Matauli, Triana Krisandini Tandjung, menambahkan pihaknya terus mendorong penguatan kurikulum yang selaras dengan kebutuhan industri.
“Mahasiswa harus magang di kapal modern, startup perikanan, kawasan budidaya, riset marine biotech. Lulusan Matauli harus relevan dengan Indonesia Emas 2045.”
Menutup kuliah umum, Prof. Rokhmin kembali menegaskan bahwa ekonomi biru merupakan paradigma pembangunan masa depan yang harus diwujudkan melalui pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.
“Ekonomi biru bukan sekadar konsep. Ini paradigma pembangunan masa depan. Kelola laut tanpa merusak lingkungan. Tujuannya naikkan produksi, sejahterakan rakyat, jaga ekosistem untuk anak cucu.”
Dengan penyelenggaraan Studium Generale tersebut, STPK Matauli menegaskan komitmennya sebagai pusat pendidikan tinggi kelautan dan perikanan yang menghasilkan lulusan berdaya saing, berintegritas, serta mampu menjawab kebutuhan pembangunan ekonomi biru menuju Indonesia Emas 2045.

















































































