Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, MS menegaskan transformasi digital merupakan agenda strategis yang akan menentukan arah masa depan Indonesia.
Hal ini disampaikan dalam Seminar Internasional bertema “Advancing Digital Governance, Smart Logistics, and Strategic Communication for Future Hospitality and Public Service Systems” yang digelar Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI Jakarta secara hybrid, Sabtu (14/2/2026).
Forum akademik tersebut menghadirkan pakar dari berbagai negara, di antaranya Dr. Tasente Tanase dari OVIDIUS University of Constanta, Romania; Prof. Dr. Kim Soo Il, Emeritus Professor Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan; serta Prof. Dr. Ilham Sentosa, MPA, Ph.D., Senior Lecturer Universiti Kuala Lumpur (UniKL), Malaysia. Kehadiran para akademisi lintas negara ini menegaskan pentingnya kolaborasi global dalam menghadapi tantangan era digital.
Dalam paparannya, Prof. Rokhmin menekankan tata kelola digital bukan sekadar tren, melainkan fondasi utama dalam pembenahan pelayanan publik dan pembangunan sistem logistik yang cerdas. Menurutnya, transformasi digital berkaitan langsung dengan visi besar Indonesia Emas 2045, yang menargetkan Indonesia menjadi negara maju, berdaulat, dan berdaya saing tinggi di tingkat global.
“Kita hidup di era yang ditandai disrupsi yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat kemajuan teknologi yang sangat cepat, meningkatnya ketegangan geopolitik, dan perubahan iklim global. Transformasi digital tidak lagi bersifat pilihan, ia bersifat mendasar,” tegas Anggota Komisi IV DPR RI tersebut dengan tema "Advancing Digital Governance, Smart Logistics, And Strategic Communication For A Better And Sustainable Public Service System Towards Golden Indonesia 2045".
Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University juga menyoroti bahwa digitalisasi akan menjadi kunci dalam memperkuat sistem komunikasi strategis, meningkatkan efisiensi logistik, serta membangun tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya mampu bertahan menghadapi krisis global, tetapi juga berpeluang tampil sebagai kekuatan baru di panggung internasional.
Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) ini menegaskan bahwa negara yang mampu mengorkestrasi tata kelola digital, sistem logistik cerdas, serta komunikasi strategis yang kredibel akan berada di garis depan peradaban global. Sebaliknya, negara yang lamban beradaptasi berisiko tertinggal dalam persaingan internasional.
Menurut Prof. Rokhmin, agenda transformasi digital berkaitan erat dengan target nasional Indonesia Emas 2045, yakni satu abad kemerdekaan. Momentum tersebut, katanya, harus dimanfaatkan untuk memperkuat ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menegakkan keadilan sosial, menguasai teknologi, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Untuk Indonesia, transformasi ini tidak terpisahkan dari visi jangka panjang nasional kita, Indonesia Emas 2045 atau satu abad kemerdekaan yang ditandai oleh kekuatan ekonomi, kesejahteraan rakyat, keadilan sosial, kepemimpinan teknologi, dan keberlanjutan ekologis,” ujarnya.
Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 itu menekankan pentingnya pembenahan institusi negara. Pemerintahan digital, menurutnya, harus dibangun dengan ekosistem data terintegrasi, sistem keamanan siber yang kuat, regulasi adaptif, serta sumber daya manusia yang kompeten.
Ia menambahkan, modernisasi tidak boleh mengabaikan keberlanjutan. “Pembangunan yang menguras sumber daya alam dan merusak ekosistem bukanlah kemajuan, itu adalah krisis yang ditunda,” tegasnya.
Dalam konteks global, Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional, Pusat Pengembangan Pesisir dan Kelautan, Universitas Bremen, Jerman itu menekankan perlunya kolaborasi lintas negara dan sektor. Tantangan seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, disrupsi teknologi, dan ketidakpastian geopolitik terlalu kompleks jika ditangani secara terpisah.
“Masa depan menuntut tata kelola kolaboratif, di mana pemerintah, akademisi, industri, media, dan masyarakat sipil bergerak dalam satu kerangka strategis bersama,” katanya.
Duta Kehormatan Pulau Jeju dan Kota Metropolitan Busan, Korea Selatan juga mendorong kemitraan publik dan swasta untuk mempercepat inovasi serta memastikan masyarakat tetap menjadi pusat pembangunan. Integrasi solusi, lanjutnya, harus menggantikan pola pikir sektoral yang terkotak. Dengan demikian, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai negara yang tangguh, berdaya saing, dan berkontribusi aktif dalam menghadapi krisis global.
Seminar internasional ini menjadi momentum penting bagi dunia akademik dan praktisi kebijakan untuk merumuskan strategi bersama dalam menghadapi era digital. Diskusi lintas negara yang berlangsung di forum tersebut diharapkan dapat memperkaya perspektif Indonesia dalam merancang kebijakan publik yang adaptif, inklusif, dan berorientasi masa depan.

















































































