Ikuti Kami

Rokhmin Dahuri: Kiai Muda dan Pesantren Harus Ambil Peran Strategis Wujudkan Indonesia Emas 2045

"Ketika umat Islam melaksanakan Islam secara kaffah dari Fathu Makkah sampai sebelum Revolusi Industri, umat Islam menguasai IPTEK."

Rokhmin Dahuri: Kiai Muda dan Pesantren Harus Ambil Peran Strategis Wujudkan Indonesia Emas 2045
Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University sekaligus Anggota Komisi IV DPR RI 2024-2029, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS.

Jakarta, Gesuri.id - Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University sekaligus Anggota Komisi IV DPR RI 2024-2029, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, mendorong para kiai muda dan pesantren mengambil peran strategis dalam menyiapkan generasi berdaya saing global untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 sebagai negara maju, adil, dan makmur.

"Ketika umat Islam melaksanakan Islam secara kaffah dari Fathu Makkah sampai sebelum Revolusi Industri, umat Islam menguasai IPTEK, maju, hidup sejahtera, dan menguasai 2/3 wilayah dunia," tegasnya.

Pandangan itu disampaikan Prof. Rokhmin dalam Diskusi Kebangsaan bersama Kiai Muda Cirebon Raya bertema “Kiai Muda Sebagai Game Changer: Mencetak Santri Berdaya Saing Global, Berbasis Nilai Keislaman dan Sains” di Nana Cafe, Kota Cirebon, Minggu (9/8/2026).

Menurut Rokhmin, potret Indonesia Emas 2045 memiliki sejumlah kesamaan dengan gambaran kejayaan peradaban Islam pada masa lampau. Ia menilai kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan politik, tetapi juga oleh kualitas manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kekuatan moral, serta sistem kehidupan yang menjunjung keadilan.

Ia menjelaskan, salah satu pelajaran penting dari masa keemasan peradaban Islam adalah tidak adanya pemisahan antara keimanan dan ilmu pengetahuan. Kemajuan sains, teknologi, ekonomi, pendidikan, hingga tata kelola masyarakat berkembang seiring dengan kuatnya nilai spiritual dan moral.

"Kehidupan di zaman keemasan tersebut sangat mirip dengan cita-cita Peradaban Bangsa Berbasis Pancasila. Mulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan, musyawarah, hingga keadilan sosial bagi seluruh rakyat," ungkap Ketua Dewan Pakar Mhwanat Muhammadiyah ini.

Rokhmin mengatakan, semangat tersebut penting untuk dihidupkan kembali dalam menghadapi tantangan pembangunan Indonesia menuju 2045. Menurutnya, generasi muda Indonesia harus memiliki keseimbangan antara iman dan takwa dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ia mencontohkan sejumlah ilmuwan Muslim yang memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan peradaban dunia. Salah satunya Al-Khwarizmi yang dikenal melalui kontribusinya dalam perkembangan matematika dan konsep algoritma.

Bagi Rokhmin, sejarah kejayaan Islam menunjukkan bahwa kemajuan tidak dapat dicapai hanya melalui kesalehan individual. Kemajuan juga membutuhkan kompetensi, produktivitas, penguasaan ilmu, inovasi, kerja keras, dan kemampuan menghasilkan karya nyata bagi masyarakat.

Ia menilai IMTAQ dan IPTEK harus berjalan beriringan dalam membangun generasi Indonesia masa depan. Generasi muda tidak cukup hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga harus memiliki karakter, integritas, etos kerja, kreativitas, dan orientasi untuk menghadirkan solusi.

Dalam penjelasannya, Rokhmin juga menyoroti kehidupan sosial pada masa kejayaan peradaban Islam yang menurutnya menempatkan perlindungan terhadap kehidupan, keyakinan, harta, dan hak-hak masyarakat sebagai bagian penting dari penyelenggaraan negara.

Ia mengatakan, keberagaman masyarakat dan perlindungan terhadap kelompok dengan keyakinan berbeda menjadi bagian dari kehidupan sosial pada masa tersebut. Prinsip keadilan dan tanggung jawab sosial, menurutnya, juga terlihat dalam perhatian terhadap masyarakat miskin, anak yatim, serta penguatan kerja sama antarkelompok masyarakat.

Rokhmin menilai salah satu kekuatan peradaban Islam pada masa itu adalah kemampuannya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Para ilmuwan menghasilkan berbagai karya di bidang matematika, kedokteran, astronomi, filsafat, perdagangan, dan bidang ilmu lainnya.

"Hampir seluruh IPTEK modern dari zaman Revolusi Industri sampai sekarang berasal dari karya-karya monumental ilmuwan Muslim di era kejayaan tersebut," ungkapnya mengutip Wallace-Murphy, 2007 dan Qureshi, 2007.

Selain penguasaan ilmu pengetahuan, Rokhmin juga menekankan pentingnya keteladanan kepemimpinan. Ia mengutip pesan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menempatkan kepemimpinan sebagai amanah yang harus dijalankan sesuai nilai kebenaran dan aturan Allah SWT.

Ia juga menyinggung prinsip kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab yang menempatkan penderitaan rakyat sebagai tanggung jawab langsung seorang pemimpin.

Menurut Ketua Umum GNTI tersebut, kepemimpinan yang baik harus ditopang oleh kecerdasan, integritas, keberanian, kepedulian, serta kemampuan menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Berangkat dari berbagai pelajaran sejarah tersebut, Rokhmin menawarkan delapan agenda bagi umat Islam dalam menghadapi perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.

Agenda tersebut meliputi pelaksanaan nilai-nilai Islam secara kaffah dan ittiba', peningkatan iman dan takwa, penguatan akhlak mulia, penguasaan serta pengamalan IPTEK, penguatan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniah, dan ukhuwah basariyah.

Selain itu, ia mendorong masyarakat untuk memilih pemimpin yang memiliki kecerdasan, kebaikan, keimanan, akhlak, serta kekuatan dalam menjalankan kepemimpinan. Penguatan pertahanan dan keamanan, sistem informasi, perdagangan, serta kewaspadaan terhadap berbagai tantangan global juga menjadi bagian dari agenda tersebut.

Rokhmin menegaskan, Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi negara maju. Bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, serta posisi geoekonomi dan geopolitik Indonesia yang strategis harus menjadi kekuatan dalam membangun masa depan bangsa.

Namun, menurutnya, modal tersebut tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.

"Saudaraku, saya mengajak untuk kita peduli dengan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu faktor utama. Pendidikan berkualitas, peningkatan keterampilan, riset, inovasi, serta penguatan iman dan takwa dinilai menjadi bagian penting dalam membangun manusia Indonesia yang kompeten, kreatif, inovatif, memiliki etos kerja tinggi, dan berakhlak mulia," ujar Prof Rokhmin.

Ia menilai pembangunan Indonesia menuju 2045 masih menghadapi sejumlah persoalan besar, mulai dari kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, disparitas wilayah, deindustrialisasi, kualitas sumber daya manusia, hingga persoalan kerusakan lingkungan.

Sementara itu, di tingkat global, Indonesia juga harus menghadapi ketegangan geopolitik, perang dagang, krisis ekologis, serta perkembangan pesat kecerdasan buatan dan robotika yang berpotensi mengubah struktur kehidupan dan dunia kerja.

Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, Rokhmin menawarkan pendekatan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi juga harus berkualitas, inklusif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Ia mendorong transformasi struktural ekonomi, penguatan kedaulatan pangan dan energi, peningkatan konektivitas, serta pengembangan sektor-sektor ekonomi baru seperti blue economy, green economy, dan ekonomi berbasis teknologi.

"Di sinilah peran strategis umat Islam dan para kiai muda," tegasnya.

Menurut Rokhmin, pesantren memiliki posisi penting dalam menyiapkan sumber daya manusia masa depan. Lembaga pendidikan Islam tersebut, menurutnya, tidak hanya harus menjadi pusat pembinaan keagamaan, tetapi juga mampu berkembang sebagai pusat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kiai muda diharapkan dapat menjadi penggerak perubahan atau game changer dengan memadukan nilai-nilai keislaman, penguasaan sains, teknologi, kreativitas, dan inovasi dalam proses pendidikan santri.

Ia menilai perpaduan antara pendidikan karakter dan kompetensi menjadi kebutuhan penting dalam menghadapi dunia yang berubah cepat akibat perkembangan teknologi.

"Dengan pendekatan tersebut, pesantren dan para kiai muda diharapkan tidak hanya berperan dalam pembinaan keagamaan, tetapi juga ikut menyiapkan generasi yang memiliki kompetensi, karakter, kreativitas, dan daya saing untuk menghadapi tantangan Indonesia menuju 2045," pungkas Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) ini.

Diskusi Kebangsaan bersama Kiai Muda Cirebon Raya berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta berdialog mengenai masa depan peran pesantren, tantangan generasi muda, penguasaan teknologi, serta pentingnya menghadirkan pendidikan yang mampu menggabungkan kekuatan spiritual dan kecakapan intelektual.

Melalui forum tersebut, Rokhmin berharap para kiai muda dapat mengambil peran yang lebih besar dalam mencetak generasi santri yang tidak hanya kuat dalam nilai keagamaan, tetapi juga memiliki pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan daya saing di tingkat global.

Bagi Rokhmin, Indonesia Emas 2045 bukan sekadar target ekonomi dan pembangunan fisik. Cita-cita tersebut harus dibangun melalui manusia Indonesia yang sehat secara jasmani dan rohani, unggul dalam ilmu pengetahuan, memiliki akhlak yang kuat, serta mampu bekerja sama dalam membangun bangsa.

Dengan perpaduan IMTAQ dan IPTEK, penguatan kualitas sumber daya manusia, kepemimpinan yang berintegritas, serta penguasaan sains dan teknologi, ia optimistis generasi muda Indonesia, termasuk para santri dan kiai muda, dapat menjadi salah satu kekuatan utama dalam membawa Indonesia menuju negara maju, adil, makmur, dan berkeadaban pada 2045.

Quote