Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi III DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Timur, Irjen Pol (Purn) Drs H Safaruddin MIKom, menegaskan empat pilar kebangsaan bukan sekadar slogan usang, melainkan fondasi penting dalam menjaga ketahanan bangsa di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis.
Hal ini disampaikan Safaruddin saat menyosialisasikan empat pilat kebangsaan di hadapan puluhan warga Kelurahan Amborawang Darat, dikutip Rabu (11/2).
Menurutnya, derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital menuntut bangsa Indonesia memiliki pegangan nilai yang kuat agar tidak mudah tergerus oleh pengaruh negatif.
"Apa pegangan yang kuat itu, yang sangat cocok. Itu adalah empat pilar kebangsaan, telah dibuat para pendahu kita yang tidak termakan oleh zaman," terang Safaruddin.
Dalam paparannya, Kapoksi Komisi III DPR RI itu menyoroti fenomena keterbukaan informasi yang saat ini ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi memberikan kemudahan akses pengetahuan, namun di sisi lain memunculkan tantangan serius seperti hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial.
Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Kaltim ini menegaskan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi filter kebangsaan dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar, terutama di ruang digital.
"Empat pilar ini berperan sebagai penunjuk arah, atau kompasnya moral bangsa. Tanpa itu, kita bisa kehilangan arah dalam menyikapi kebebasan berekspresi di era digital," bebera Safaruddin di hadapan peserta kegiatan sosialisasi.
Mantan Kapolda Kaltim ini juga menaruh perhatian besar pada peran generasi muda yang mendominasi pengguna media sosial. Ia mendorong anak muda untuk tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu memproduksi konten yang edukatif dan menyejukkan.
"Jangan malah buat video atau sesuatu yang bisa jadi boomerang, malah memperkeruh suasana. Harus bijak menggunakan teknologi, terutama media sosial," harapnya.
Safaruddin mendoring, literasi digital berbasis nilai kebangsaan sangat penting agar ruang digital tidak menjadi arena konflik, melainkan sarana memperkuat persatuan.
Selain generasi muda, Sadaruddin juga memberikan penekanan khusus pada peran keluarga, terutama para ibu, yang dinilainya memiliki posisi strategis dalam membimbing aktivitas digital anak sejak dini.
"Pendidikan karakter melalui keteladanan jauh lebih efektif daripada sekadar nasihat. Nilai kejujuran, toleransi, dan saling menghargai harus dimulai dari rumah. Nah ibu-ibu ini punya peran penting dalam mendidik anak," katanya.
Ia juga mengajak tokoh masyarakat serta organisasi sosial untuk terus menjaga sinergi dan menjadi teladan dalam mengedepankan persatuan di atas kepentingan politik jangka pendek. "Karena ini tanggungjawab kita bersama, dan untuk kepentingan kita bersama juga. Buat generasi setelah kita, anak cucu kita," pungkas Safaruddin di sela dialog bersama warga menutup kegiatan sosialisasi.

















































































