Ikuti Kami

Kesaksian Panda Nababan: Perlakuan Tercela terhadap Jenderal Nasution di Era Soeharto

Jenderal Nasuiton diperlakukan secara tidak hormat dengan ditarik-tarik sarungnya saat menyolati Adam Malik

Kesaksian Panda Nababan: Perlakuan Tercela terhadap Jenderal Nasution di Era Soeharto
Politisi senior Panda Nababan - Foto: Capture Youtube Keadilan TV

Jakarta, Gesuri.id – Politisi senior PDI Perjuangan, Panda Nababan, mengungkap kisah memilukan yang dialaminya saat bertugas meliput prosesi pemakaman mantan Wakil Presiden Adam Malik pada 5 September 1984. Ia menyaksikan langsung bagaimana Jenderal Abdul Haris Nasution, tokoh besar TNI dan saksi sejarah perjuangan kemerdekaan, diperlakukan secara tidak hormat dengan ditarik-tarik sarungnya saat menyolati jenazah Adam Malik oleh 2 orang diduga ajudan Presiden ketika Presiden Soeharto datang melayat.

“Saya lihat sendiri waktu itu. Nasution ditarik dua orang tegap, dan cepak didudukkan di teras luar. Lima menit kemudian Soeharto datang melayat. Nasution tidak boleh berhadapan dengannya. Itu perlakuan tercela,” ujar Panda dalam Podcast Keadilan TV yang tayang, Minggu (9/11).

Peristiwa itu terjadi di rumah duka Adam Malik di Jakarta. Nasution, yang datang lebih dulu, duduk dengan tenang di ruang utama. Namun begitu protokol mengetahui Soeharto akan datang, aparat pengamanan segera meminta Nasution meninggalkan ruangan. “Sebagai wartawan, saya tahu betul maknanya: Soeharto tak mau satu ruangan dengan orang yang pernah dianggap lawan politiknya,” katanya.

Panda menilai tindakan tersebut mencerminkan bagaimana rezim Orde Baru memperlakukan tokoh-tokoh yang tak lagi sejalan dengan kekuasaan. “Padahal mereka sama-sama pejuang kemerdekaan. Ini bukan soal pribadi, ini soal penghormatan pada sejarah,” ujarnya.

Menurut Panda, kejadian itu menjadi simbol bagaimana kekuasaan bisa menghapus etika, bahkan terhadap sosok yang telah berjasa besar bagi bangsa. “Bayangkan, seorang Jenderal Besar Nasution saja diperlakukan begitu, apalagi rakyat biasa,” katanya getir.

Ia menilai, rezim Orde Baru secara sistematis menciptakan budaya ketakutan. Siapa pun yang tidak tunduk dianggap musuh negara. “Soeharto berhasil membangun kekuasaan dengan menyingkirkan semua yang dianggap bayangan ancaman,” ujar Panda.

Namun bagi Panda, kebenaran sejarah tidak akan bisa dihapus oleh kekuasaan. Katanya, kita sebagai generasi terdahulu telah mencatat dan menyaksikan, dan kita wajib menyampaikan kepada generasi berikutnya agar tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Mungkin Soeharto punya kekuasaan besar, tapi sejarah punya kekuatan yang lebih besar lagi – kebenaran," tandas Panda.

Quote