Trenggalek, Gesuri.id - Alunan gamelan terdengar mengalun di tengah keheningan malam. Irama musik tradisional itu berpadu dengan gerak gemulai para penari, laki-laki dan perempuan, yang mengenakan busana khas.
Para penari perempuan tampil berkebaya dengan selendang yang melingkar di tubuh. Sementara para penari lainnya mengenakan seragam batik.
Malam itu bukan sekadar pertunjukan seni. Ada suasana berbeda yang terasa di Desa Duren, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek.
Para penari yang tergabung dalam Paguyuban Seni Langen Tayub Sindu Budoyo tengah menjalani prosesi wisuda pelestari seni budaya tayub.
Layaknya seremoni kelulusan, puluhan penari mengikuti prosesi dengan penuh khidmat. Mereka tidak hanya dinyatakan telah menyelesaikan sebuah proses, tetapi juga mengikrarkan diri untuk terus menjaga kesenian tayub sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Trenggalek.
Lebih dari 25 penari mengikuti wisuda tersebut. Sebagian besar bahkan sudah berusia lanjut.
Namun usia bukan alasan untuk berhenti berkesenian.
Justru di usia senja, mereka masih memilih berada di tengah gamelan, menari, dan merawat tradisi yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek Doding Rahmadi yang hadir dalam agenda tersebut mengatakan, tradisi semacam itu menunjukkan kuatnya hubungan masyarakat Trenggalek dengan budaya leluhur.
“Inilah ciri khasnya Trenggalek. Warganya masih memegang teguh tradisi leluhur. Salah satunya ini, seni tayub. Seni ini sudah melegenda,” kata Doding, Sabtu (26/9/2026).
Bagi para penari, malam wisuda tersebut menjadi penanda penting. Mereka secara resmi menyatakan diri sebagai bagian dari pelestari seni tayub.
Ikrar pun dibacakan di hadapan warga yang hadir.
Ada tanggung jawab budaya yang ikut disematkan bersama prosesi tersebut. Bukan hanya bisa menari, tetapi juga menjaga pakem dan nilai yang terkandung dalam kesenian tayub agar tidak hilang ditelan zaman.
“Sekali lagi, saya mengucapkan selamat atas wisuda para pelestari seni budaya tayub. Tetap pegang teguh pakem dan jangan sampai hilang di tengah impitan teknologi zaman yang terus berkembang,” pesan Doding.
Tayub dan Cerita Leluhur
Di tengah masyarakat, tayub memang memiliki cerita yang panjang.
Kesenian ini tidak sekadar dikenal sebagai seni pertunjukan. Bagi masyarakat Mataraman, tayub juga berkaitan dengan tradisi syukuran dan kehidupan agraris.
Doding menuturkan, berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, tayub merupakan kesenian yang diwariskan para pendahulu dan pernah digunakan dalam berbagai kegiatan syukuran setelah panen.
Di balik gerak tari dan iringan gamelan, tersimpan harapan agar hasil pertanian berikutnya kembali melimpah.
Sosok penari perempuan atau ledek juga memiliki kisah tersendiri. Dalam cerita yang berkembang, ledek dikaitkan dengan sosok Dewi Sri yang dikenal dalam tradisi masyarakat agraris sebagai simbol kesuburan.
Sementara itu, terdapat pula kisah Dewo Kolo yang ingin mendekati Dewi Sri. Namun keinginannya ditolak sehingga kemudian diajak menari.
Cerita-cerita semacam itu menjadi bagian dari kekayaan narasi yang hidup di tengah masyarakat dan ikut menyertai perjalanan kesenian tayub dari generasi ke generasi.

















































































