Ikuti Kami

Poros Al Quds Makassar dan Gabungan Ormas Gelar Aksi Solidaritas Dukungan Atas Palestina dan Kedaulatan Republik Islam Iran

Bangsa Indonesia harus keluar dari keanggotaan Board of Peace yang muatannya sama sekali tidak berpihak pada kemerdekaan Pelestina. 

Poros Al Quds Makassar dan Gabungan Ormas Gelar Aksi Solidaritas Dukungan Atas Palestina dan Kedaulatan Republik Islam Iran
Aktivis Palestina kader PDI Perjuang yang juga Ketua Forum Nasional Bhinneka Tunggal Ika Sulawesi Selatan, Fajar Ahmad Huseini.

Makassar, Gesuri.id - Jumat 13 Maret 2026 sekitar pukul 15:00 siang hingga menjelang magrib, Poros Al Quds dan Gabungan beberapa Organisasi Kemasyarakatan melakukan aksi solidaritas dukungan bagi kemerdekaan Bangsa Palestina dan kedaulatan Republik Islam Iran. 

Salah seorang aktivis Palestina kader PDI Perjuang yang juga Ketua Forum Nasional Bhinneka Tunggal Ika Sulawesi Selatan, Fajar Ahmad Huseini dalam orasinya menyatakan bangsa Indonesia harus keluar dari keanggotaan Board of Peace yang muatannya sama sekali tidak berpihak pada kemerdekaan Pelestina. 

"Dan kita wajib berdiri di sini untuk menyatakan sikap kita sebagai bangsa Indonesia, untuk menegakkan asas nilai-nilai konstitusional kita. Dalam konteks ini, kami harus menegaskan juga bahwa bangsa Indonesia berada dalam garis perjuangan yang sama dengan Republik Islam Iran dalam mendukung kemerdekaan bangsa Palestina," ujarnya.

Bangsa Indonesia dan bangsa Iran sejak berdirinya Republik Islam Iran Tahun 1979 yang berhasil menumbangkan rezim Reza Pahlevi yang menjadi pemerintah boneka Amerika. Dan sejak saat itu pula Indonesia dan bangsa Iran berada dalam satu spirit perjuangan untuk nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan dunia.

"Kenapa kita harus berpegang erat pada cita-cita  luhur para pendiri bangsa, karena hakikat kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia bernafas dalam spirit perlawanan kepada segala bentuk kolonialisme, imperialisme, atau hegemoni di manapun itu."

Sebagaimana yang telah ditegaskan kembali oleh Presiden ke-5 RI Ibu Megawati Soekarnoputri, yang meminta kepada Presiden Republik Indonesia, agar kembali pada mandat konstitusi dalam memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Palestina dan mendukung kedaulatan negara Republik Islam Iran;

Sejatinya yang paling rasional jika mengacu pada Pancasila dan UUD 45, seharusnya pemerintah Indonesia lebih pro aktif berpartisipasi untuk mendukung penuh vonis resmi Mahkamah Internasional kepada Netanyahu yang telah terbukti melakukan genosida atau kejahatan kemanusiaan. 

Senada dengan itu orasi Prof. Dr. Khusnul Yakin akademisi Universitas Hasanuddin yang juga salah seorang aktivis dan pemerhati perjuangan Palestina menyatakan keterlibatan bangsa Indonesia dalam keanggotaan BoP itu sangat fatal dan itu selain cacat prosedural jelas sangat bertentangan dengan nilai-nilai asas konstitusi.

"Dan itu terkonfirmasi dengan adanya beberapa pihak dari berbagai lembaga hukum civil society akhirnya menggugat kebijakan masuknya Indonesia dalam keanggotaan BoP." 

"Dari konteks kepentingan ekonomi pun kita tidak mendapatkan manfaat sama sekali, ketika mengikuti skenario Amerika tersebut justru sebaliknya lebih banyak mudharatnya." 

"Bagaimana bisa kita duduk bersama dan yakin dengan pihak Zionis Israel-Amerika untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina?" 

Itu sangat absurd dan tidak rasional, pembenaran apapun yang diungkapkan atas kebijakan itu pastinya akan terbantahkan dengan sendirinya oleh bukti-bukti sejarah, tentang bagaimana sepak terjang kejahatan kedua negara itu. 

"Apalagi mata dunia telah menyaksikan baru-baru ini Zionis Israel dan Amerika telah menyerang Republik Islam Iran dan menggugurkan pemimpin tertingginya Ayatullah Hosseini Khamenei. Jelas itu adalah kejahatan atau pelanggaran kedaulatan berat yang harus dibayar oleh kedua negara agresor tersebut," ucap Prof Khusnul. 

Akhir aksi ini ditutup dengan pertunjukan teatrikal pembakaran simbol-simbol bergambar wajah Trump dan Netanyahu. Diakhiri dengan doa dukungan kepada perjuangan Republik Islam Iran dan kemerdekaan negara Palestina.

Quote