Ikuti Kami

Rokhmin Dahuri: Ketergantungan Impor Bukan Keniscayaan, Melainkan Kegagalan Cara Pandang

Kedaulatan Pangan Indonesia tidak akan terwujud jika terus bergantung pada impor kedelai.

Rokhmin Dahuri: Ketergantungan Impor Bukan Keniscayaan, Melainkan Kegagalan Cara Pandang
Anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri menegaskan kedaulatan pangan Indonesia tidak akan terwujud jika terus bergantung pada impor kedelai, dalam gagasannya terkait pengembangan hilirisasi dan budidaya kedelai varietas asli Indonesia.

“Ketergantungan impor bukan keniscayaan, melainkan kegagalan cara pandang,” kata Ketua Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) tersebut, dikutip Jumat (24/4/2026).

Dalam paparannya, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berani berpihak pada produk lokal melalui tema “Pengembangan Hilirisasi dan Budidaya Kedelai Varietas Asli Indonesia: Solusi untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan Rakyat Indonesia secara Berkelanjutan”.

Ia menilai selama puluhan tahun Indonesia seolah menerima narasi bahwa kedelai lokal tidak unggul, padahal Indonesia memiliki lahan luas, plasma nutfah beragam, serta kapasitas inovasi yang cukup untuk membangun kemandirian kedelai.

“Bangsa tempe harus berdaulat atas bahan baku sendiri,” tegas Prof. Rokhmin.

Menurutnya, sebagai negara dengan konsumsi tempe dan tahu tertinggi di dunia, Indonesia seharusnya mampu memenuhi kebutuhan kedelai dari produksi domestik. Ia mencontohkan varietas lokal seperti Grobogan yang memiliki kandungan protein tinggi, cita rasa khas, serta bersifat non-GMO yang lebih sehat.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa berdasarkan hasil riset, kendala utama pengembangan kedelai bukan terletak pada agroekologi, melainkan pada distribusi benih, pembiayaan, penyuluhan, serta kepastian pasar. Dengan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi, kedelai lokal dinilai mampu menjadi komoditas strategis yang berdaya saing tinggi.

Selain aspek ekonomi, Prof. Rokhmin juga menyoroti fungsi ekologis kedelai yang mampu mengikat nitrogen dari udara melalui simbiosis dengan bakteri rhizobium, sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

Ia juga menekankan pentingnya hilirisasi sebagai kunci peningkatan nilai tambah. Menurutnya, kedelai tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah, melainkan harus diolah menjadi produk turunan seperti tempe higienis, susu kedelai, minyak kedelai, hingga pakan ternak berkualitas.

“Kedaulatan pangan hanya dapat terwujud apabila kita berani berpihak pada produk lokal. Kedelai Indonesia adalah aset strategis yang harus dioptimalkan,” pungkasnya.

Quote