Ikuti Kami

Rocky Gerung di Public Lecture Jogja: Keluarkan Sindiran "Tut Wuri Malsuin Ijazah"

Tukang Kayu Jadi Tahanan" hingga "Kaus Stunting": Rocky Gerung Telanjangi Krisis Hak Generasi di Yogyakarta.

Rocky Gerung di Public Lecture Jogja: Keluarkan Sindiran
Pengamat politik Rocky Gerung.

Yogyakarta, Gesuri.id – "Tongkat kayu dan batu jadi tanaman... Tukang kayu sebentar lagi jadi tahanan." Seloroh tajam khas Rocky Gerung itu seketika memecah tawa sekaligus keheningan di Embung Giwangan, Yogyakarta, Senin (16/2).

Dalam forum Public Lecture Series 002 yang digelar Pandu Negeri, Rocky tidak hanya datang membawa kritik, ia datang membawa "pisau bedah" untuk menelanjangi apa yang disebutnya sebagai kejahatan terhadap hak generasi.

Rocky membuka orasi intelektualnya dengan serangan frontal terhadap kebijakan anggaran pendidikan. Ia menyebut narasi "Bonus Demografi" yang sering didengungkan pemerintah sebagai omong kosong jika melihat realitas depopulasi dan alokasi dana yang diselewengkan.

"Normanya adalah 20 persen untuk pendidikan. Faktanya? Diambil untuk Dana Desa. Dana Desa pindah jadi Makan Bergizi Gratis (MBG). MBG berubah jadi kaus. Kaus pindah ke UNICEF sebagai laporan stunting. It is a crime! Itu pelanggaran hak," tegas Rocky dalam acara yang ditayangkan live di Youtube itu (https://www.youtube.com/live/BtDbDUN58as?si=ZSv3FIZZRUvKZoT1).

Baca: Ganjar Pranowo Ungkap Masyarakat Takut dengan Pajak

Rocky menilai, generasi muda saat ini sedang diwariskan "air kotor" dari kebijakan ekonomi-politik satu dekade terakhir. Rocky mengibaratkan kondisi Presiden Prabowo Subianto saat ini sedang terendam air kotor hingga sedagu. "Dua senti saja Prabowo menunduk, air kotor sepuluh tahun itu masuk ke hidungnya. Tenggelam dia," tambahnya.

Keresahan dari Balik Kelas: Suara OSIS dan Guru

"Kenakalan" pikiran Rocky seolah mendapat pembenaran saat para penanggap dari kalangan pelajar dan guru berbicara. Otniel Rahadianta Sembiring, perwakilan Forum Komunikasi Pengurus OSIS (FKPO) Yogyakarta, mengungkapkan kegelisahan yang mendalam.

"Kami sebagai generasi baru seharusnya membawa ide-ide baru ke dalam demokrasi, tetapi kami dibungkam semena-mena. Sistem yang ada terlalu rigid bagi kami," curhat Otniel.

Keresahan serupa disampaikan Ismi Fajarsih, Ketua MGMP Bahasa Inggris DIY. Sebagai praktisi di garis depan, ia mengkritik kebijakan yang sering kali melakukan "pengobatan tanpa diagnosa". "Kita itu sukanya kasih parasetamol, memberikan masking effect. Penyakitnya hilang sebentar, tapi kita tidak tahu sebab aslinya apa," ujar Ismi merespons kebijakan pendidikan yang sering kali berubah tanpa kajian mendalam.

Institutional Decay dan Paradoks "Kepala yang Dipenggal"

Diskusi semakin memanas ketika ekonom Rimawan Pradiptyo dan sosiolog pendidikan Prof. Sugeng Bayu Wahyono membedah struktur kelembagaan kita. Rimawan menceritakan pengalamannya dalam berbagai Satgas yang selalu sukses secara data namun "dimatikan" saat mulai menyentuh kepentingan elit. Ia menyebutnya sebagai Institutional Decay atau pembusukan kelembagaan.

Sementara itu, Rocky Gerung kembali dengan perspektif historisnya yang provokatif. Ia membandingkan pendidikan di Prancis yang lahir dari solidaritas manusia pasca-Revolusi Prancis—saat kepala Raja Louis dipenggal untuk membuktikan kekuasaan di tangan rakyat—dengan Indonesia yang masih terjebak feodalisme.

"Di Indonesia, yang terjadi bukan Ing Ngarso Sung Tulodo, tapi Ing Ngarso Sung Korupsi. Bukan Tut Wuri Handayani, tapi Tut Wuri Malsuin Ijazah," sindir Rocky, merujuk pada maraknya skandal ijazah dan defisit nilai di dunia akademik.

Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, yang juga pembicara di acara itu menyampaikan refleksi jenaka namun menohok tentang sulitnya melakukan reformasi. Ia menceritakan pengalamannya saat memimpin BKKBN dalam menangani sanitasi di daerah aliran sungai.

"Masyarakat sudah tahu buang air di sungai itu bikin mencret, infrastruktur jamban sudah dibangun, tapi mereka tetap ke sungai. Kenapa? Karena otaknya sudah paham, tapi pantatnya belum paham kalau belum kecelup air sungai," ujar Hasto yang disambut tawa riuh.

Hasto menekankan bahwa masalah bangsa bukan sekadar inovasi teknis, melainkan Change of Mindset. Ia sepakat dengan Rocky bahwa pendidikan harus kembali pada esensi memanusiakan manusia, bukan sekadar mencetak "faktor produksi" untuk kepentingan pasar.

Di akhir acara, Rocky Gerung menitipkan pesan besar bagi Yogyakarta. Ia berharap Jogja tetap menjadi The Community of Thought yang berani bertengkar secara akademis.

"Saya percaya Jogja bisa menghalangi makhluk-makhluk pragmatis, makhluk-makhluk rakus, untuk merampas hak generasi di sini. Saya percaya Jogja tidak akan jadi kandang gajah," pungkasnya, disambut standing ovation dari ratusan peserta yang didominasi mahasiswa dan pelajar.

Baca: Ganjar Pranowo Tegaskan PDI Perjuangan Tetap Kokoh

Acara ini dipandu oleh Aryo Seno Bagaskoro dari Pandu Negeri. Sebagai pembuka rangkaian acara, Aryo Seno Bagaskoro, melakukan kunjungan ke Pendopo Agung Taman Siswa untuk menyerap nilai-nilai perjuangan Ki Hadjar Dewantara, Senin (16/2/2026).

Dalam wawancaranya usai berkeliling museum, Seno menegaskan bahwa Pandu Negeri hadir sebagai movement yang fokus membangun ruang diskusi bagi generasi muda agar tetap kritis mengawal perencanaan pembangunan dan kebijakan pemerintah.

Seno menyoroti tema utama kuliah umum kali ini yang mengangkat isu pendidikan, keadilan, dan hak generasi. Ia menekankan bahwa pendidikan di Indonesia harus kembali pada khitahnya sebagai alat untuk mencerdaskan dan memajukan kesejahteraan umum.

"Pendidikan itu adalah membangun manusia, bukan soal bagaimana pendidikan itu dikapitalisasi atau diprivatisasi. Kami ingin memastikan esensi pendidikan yang memerdekakan tetap terjaga," ujar Seno .

Quote