Ikuti Kami

Pengeboman Hiroshima dan Panggilan Mendadak Bung Karno ke Vietnam, Titik Balik Menuju Proklamasi Kemerdekaan

Bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima mengguncang posisi militer Jepang. Kekuatan Negeri Sakura mulai runtuh dan kekalahan.

Pengeboman Hiroshima dan Panggilan Mendadak Bung Karno ke Vietnam, Titik Balik Menuju Proklamasi Kemerdekaan
Sejumlah orang menyaksikan ledakan eksperimental pada 25 April 1952 dari bom termonuklir atau bom hidrogen model H, 'saudara' dari bom atom yang diluncurkan di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945. Pada 73 tahun lalu, Agustus 1945, AS menjatuhkan bom 'Little Boy' di Kota Hiroshima, Jepang, sebagai tahap akhir PD II yang menewaskan lebih dari 120.000 orang. Setelah Hiroshima, Kota Nagasaki menjadi sasaran berikutnya.(AFP PHOTO/FILES)

Jakarta, Gesuri.id - Pengeboman Hiroshima oleh Amerika Serikat pada 6 Agustus 1945 menjadi salah satu titik balik paling menentukan dalam sejarah Perang Dunia II sekaligus mempercepat jalan Indonesia menuju kemerdekaan. Di hari yang sama, Bung Karno menerima panggilan mendadak dari Panglima Tertinggi Tentara Jepang di Asia Tenggara (Saiko Shikikan), Marsekal Hisaichi Terauchi, untuk segera berangkat ke Dalat, Vietnam, bersama Mohammad Hatta dan dr. Radjiman Wedyodiningrat.

Bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima mengguncang posisi militer Jepang. Kekuatan Negeri Sakura mulai runtuh dan kekalahan hanya tinggal menunggu waktu. Dalam situasi genting itu, Jepang berupaya mempertahankan pengaruhnya di wilayah pendudukan, termasuk Indonesia, dengan mempercepat realisasi janji kemerdekaan yang sebelumnya telah diumumkan.

Panggilan mendadak kepada Soekarno, Mohammad Hatta, dan dr. Radjiman bukan sekadar agenda seremonial. Dalam pertemuan di Dalat pada 9 Agustus 1945, Marsekal Terauchi menyampaikan bahwa pemerintah Jepang memberikan persetujuan bagi Indonesia untuk mempersiapkan kemerdekaannya. Ia juga menyatakan bahwa wilayah Indonesia yang akan merdeka mencakup seluruh bekas Hindia Belanda.

Meski demikian, perkembangan perang bergerak jauh lebih cepat daripada perhitungan Jepang. Tiga hari setelah Hiroshima dibom, Amerika Serikat kembali menjatuhkan bom atom di Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Uni Soviet juga menyatakan perang terhadap Jepang. Rentetan peristiwa tersebut mempercepat keputusan Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945.

Bagi para pemimpin Indonesia, kondisi tersebut membuka ruang politik yang sangat menentukan. Setelah Jepang menyerah, muncul perdebatan antara golongan tua dan golongan muda mengenai waktu pelaksanaan proklamasi. Golongan muda mendesak agar kemerdekaan diproklamasikan segera tanpa menunggu persetujuan Jepang maupun sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Rangkaian peristiwa yang dimulai dari pengeboman Hiroshima pada 6 Agustus 1945 hingga Proklamasi 17 Agustus 1945 menunjukkan bagaimana dinamika geopolitik dunia berpengaruh langsung terhadap lahirnya Republik Indonesia. Kekalahan Jepang memang membuka peluang, tetapi keputusan memproklamasikan kemerdekaan tetap merupakan hasil pilihan politik para pemimpin bangsa Indonesia yang memanfaatkan momentum sejarah tersebut.

Peristiwa 6 Agustus 1945 karena itu tidak hanya dikenang sebagai tragedi kemanusiaan akibat bom atom di Hiroshima, tetapi juga menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang mengantarkan Indonesia menuju Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.


*Sumber*

1. Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
2. Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945.
3. Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945.
4. Arsip Nasional Republik Indonesia, koleksi dokumen Proklamasi dan PPKI.
5. National Diet Library, arsip mengenai pertemuan Dalat dan kebijakan Jepang menjelang menyerah.
6. The National WWII Museum, kronologi pengeboman Hiroshima dan berakhirnya Perang Dunia II.

Quote