Ikuti Kami

KRL Rangkasbitung Over kapasitas, Sofwan Dedy Minta Kemenhub dan PT KAI Perpendek Headway Jadi 4 Menit

Ia mendesak Pemerintah dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk segera meningkatkan kapasitas infrastruktur di jalur tersebut.

KRL Rangkasbitung Over kapasitas, Sofwan Dedy Minta Kemenhub dan PT KAI Perpendek Headway Jadi 4 Menit
Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sofwan Dedy Ardyanto.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sofwan Dedy Ardyanto, kembali menyoroti kualitas layanan transportasi publik, khususnya Jalur Commuter Line KRL Jabodetabek lintasan Rangkasbitung (Green Line).

Ia mendesak Pemerintah dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk segera meningkatkan kapasitas infrastruktur di jalur tersebut.

​Sofwan, yang mengaku pernah menjadi pengguna setia KRL ("anak kereta"), menilai kondisi kepadatan penumpang saat jam sibuk di lintas Tanah Abang–Rangkasbitung sudah sangat memprihatinkan dan melampaui batas ideal.

Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak

​"Saya pernah lama jadi 'anak kereta'. Sudah saatnya Pemerintah dan PT KAI berinvestasi lebih besar di jalur-jalur yang tingkat layanannya masih jauh dari kata layak. Masyarakat pengguna KRL harus terangkut dengan aman, nyaman, dan manusiawi," tegas Sofwan.

​Ia mengapresiasi keterbukaan Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, yang mengungkapkan data kelebihan kapasitas (overcapacity) di jalur tersebut. Pada jam puncak, satu gerbong berukuran standar 60 meter persegi dipaksa menampung hingga 480 orang. Padahal, daya tampung idealnya hanya 360 orang.

​"Tingkat okupansi per gerbong sudah over hingga 160 persen. Problematika ini harus segera diurai. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan," ujar Politisi PDI Perjuangan tersebut.
​Berdasarkan hasil temuan dan riset lapangan, Sofwan mencatat tiga faktor utama yang menyebabkan penumpukan penumpang di Jalur Green Line:

1. ​Pertumbuhan Permukiman: Tingginya pertumbuhan kawasan perumahan di sepanjang koridor Tanah Abang–Rangkasbitung memicu lonjakan jumlah penumpang secara signifikan.

2. ​Keterbatasan Rangkaian Kereta: Sebagian besar KRL yang beroperasi di jalur ini masih menggunakan rangkaian pendek, yaitu 8 hingga 10 gerbong (Stamformation/SF8 atau SF10).

3. ​Interval Kedatangan (Headway) yang Panjang: Jarak kedatangan antarkereta masih berkisar antara 10 hingga 15 menit, yang dipicu oleh terbatasnya infrastruktur persinyalan.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar

​Menyikapi permasalahan ini, Sofwan mendorong Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan dan PT KAI untuk segera mengakselerasi peningkatan kapasitas infrastruktur pendukung.

​Fokus utama peningkatan mencakup penguatan suplai Listrik Aliran Atas (LAA), modernisasi sistem persinyalan, serta penambahan jumlah gerbong/rangkaian kereta (stamformation) pada jam-jam sibuk.

​"Dengan peningkatan infrastruktur tersebut, saya berharap jarak kedatangan antarkereta (headway) secara bertahap bisa dipangkas menjadi ideal, yaitu 4 sampai 5 menit, sehingga kepadatan penumpang di setiap gerbong bisa berkurang secara signifikan," pungkasnya.

Quote