Ikuti Kami

Waspada Terhadap Jebakan Donald Trump

Oleh: Guntur Soekarno, Ketua Dewan Ideologi DPP PA GMNI/Pemerhati Sosial.

Waspada Terhadap Jebakan Donald Trump
Guntur Soekarno, Ketua Dewan Ideologi DPP PA GMNI/Pemerhati Sosial.

Jakarta, Gesuri.id - Donald Trump yang sejak dahulu sudah dikenal sebagai pribadi yang “nyentrik” kini melakukan lagi keanehannya dengan membuat sebuah strategi dan taktik politik yang kontroversial yaitu dengan jalan mendirikan Board of Peace. Sebuah badan Internasional yang katanya dibentuk untuk memperjuangkan perdamaian dunia yang belakangan hari ini berada dalam kondisi panas dingin terutama karena ulah Israel khususnya dalam masalah Gaza Palestina.

Perlu kita Ingatkan bagaimana “eksentriknya” Trump ketika di era dunia diserang virus covid beberapa dekade lalu Trump dengan pongah melepaskan masker yang melindungi dirinya dari virus covid dan menyatakan dia tidak takut pada covid seberapapun bahayanya virus tersebut.

\Hal tersebut Ia lakukan di hadapan puluhan staf Gedung Putih yang sedang mendiskusikan penanganan masalah covid yang menyerang dunia saat itu.

Sikap Indonesia menghadapi BOP

Bagi penulis sikap Indonesia yang politik luar negerinya jelas-jelas non-blok serta anti Nekolim dengan segala bentuk dan manifestasinya, sangat mengherankan secara spontan bersedia duduk di dalam BOP nya Trump.

Bukankah untuk menjaga perdamaian dunia Indonesia harus mengambil jalan lebih memperkuat bahkan merevolusionerkan gerakan non-blok. Selain itu memperkuat solidaritas perjuangan dengan negara-negara Asia Afrika bahkan juga melalui ASEAN untuk forum regional. Artinya kurang tepat bila untuk memperjuangkan perdamaian dunia Indonesia harus ikut “nimbrung” di BOP-nya Trump.

Namun fakta menunjukkan bahwa Indonesia sudah memutuskan untuk duduk di dalam BOP. Terus terang hal ini membuat penulis kaget dan tidak habis pikir mengapa Indonesia bersedia duduk di dalam BOP nya Trump.
Buat kita-kita yang awam pada politik tingkat tinggi secara sekelebat saja sudah mengetahui paling tidak menduga bahwa Trump mendirikan BOP adalah untuk memberikan dukungan internasional kepada Israel yang belakangan hari ini posisi politiknya sudah amat tersudut dan lemah.

Juga di dalam hal persenjataan tidak ayal Iron Dome (Kubah Baja) yang mereka bangga-banggakan ternyata bobol oleh rudal-rudal Iran sehingga Tel Aviv terancam secara serius.

Lebih celakanya pernyataan-pernyataan tertutup dari divisi Tzomet (divisi khusus dari Mossad- Badan Intelijen Israel) yang bertugas merekrut tenaga-tenaga andalan untuk agen-agen intelijen dalam dan luar negeri menyatakan telah terjadi demoralisasi di sekujur Angkatan Bersenjata Israel. Hal ini telah membuat resah Amerika Serikat yang selama ini pemerintahannya didukung oleh konglomerat konglomerat seperti George Soros; Elon Musk; Bill Gates yang didukung sepenuhnya oleh Israel dan Para Zionis sedunia.

Kekhawatiran inilah yang mendorong Donald Trump “mendirikan” Board of Peace  untuk membackup Israel agar tidak kolapse.

Terbukti dalam waktu yang relatif singkat ternyata Israel diterima masuk ke dalam BOP dan duduk sejajar dengan negara-negara berdaulat yang lainnya termasuk Indonesia.

Indonesia yang merupakan pendukung historis negara Palestina menurut hemat penulis hendaknya mengambil sikap tegas menghadapi perkembangan terbaru ini.

Perlu diingat di sini bahwa hingga detik ini Indonesia tidak pernah mengakui adanya negara Israel. Terbukti ketika di Bandung ada Konferensi Asia Afrika Presiden Sukarno menolak mengundang Israel. Pada Pesta olahraga Asia 1962 (Asian Games) lagi-lagi Israel tidak diundang, selanjutnya di pesta olahraga skala dunia GANEFO (Games of the New Emerging Forces) Israel absen karena tidak diundang. Disamping itu sejauh yang penulis ketahui Presiden Sukarno menolak politik pengakuan Dua negara yang berdamai. Bung Karno hanya mengakui eksistensi dan kedaulatan negara Palestina dan tegas menolak adanya negara Israel yang menurut Bung Karno negara tersebut terbentuk atas seruan Ben Gurion kemudiannya Golda Meir agar Yahudi-Yahudi sejagat mengadakan eksodus ke tanah Palestina yang kini disebut Israel.

Perlu ketegasan sikap Indonesia

Mengingat uraian kilat dan singkat di atas menurut hemat penulis sebagai eksponen Patriotik Sukarnois hendaknya Indonesia segera keluar dari BOP-nya Trump dan berjuang atas dasar perjuangan anti nekolim yang saat ini belum mati akan tetapi sedang “sekarat” alias “dying”!
Dengan begitu dukungan historis Indonesia terhadap negara Palestina benar-benar terlaksana!!!

Quote