Ikuti Kami

30 Tahun Kudatuli, Seno Bagaskoro Soroti Negara Belum Akui Tragedi 27 Juli sebagai Pelanggaran HAM Berat

Apakah negara pernah mengakui kesalahan, meminta maaf kepada korban Kudatuli, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi?

30 Tahun Kudatuli, Seno Bagaskoro Soroti Negara Belum Akui Tragedi 27 Juli sebagai Pelanggaran HAM Berat
PAC PDI Perjuangan Ciracas gelar Diskusi 30 Tahun Peristiwa Kudatuli - Foto: Alvin/Gesuri.id

Jakarta, Gesuri.id – Tiga puluh tahun setelah Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996, Juru Bicara dan Tokoh Muda PDI Perjuangan Seno Bagaskoro menilai negara belum menunjukkan keberanian untuk mengakui tragedi tersebut sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat. Menurutnya, belum adanya pengakuan resmi dan permintaan maaf negara menjadi pekerjaan rumah besar dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

Hal itu disampaikan Seno dalam Diskusi Tapak Tilas 30 Tahun Tragedi Kudatuli yang digelar PAC PDI Perjuangan Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu (25/7). Dalam kesempatan itu, Seno mengaku sengaja mencari berbagai referensi mengenai penyelesaian Kudatuli sebelum menghadiri diskusi.

"Saya mencoba googling, apakah sudah pernah ada pengakuan negara secara jujur bahwa Kudatuli dan seluruh rangkaian peristiwanya merupakan pelanggaran HAM berat. Apakah negara pernah mengakui kesalahan, meminta maaf kepada korban, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jawabannya, sampai hari ini belum ada," kata Seno.

Menurutnya, fakta tersebut menunjukkan masih adanya jarak antara cita-cita Reformasi dengan penyelesaian berbagai pelanggaran HAM masa lalu. Padahal, berbagai fakta dan indikasi yang berkembang selama bertahun-tahun dinilai telah cukup kuat untuk menjadi dasar pengakuan negara.

Seno mengatakan pengakuan negara bukan sekadar persoalan simbolik, melainkan bentuk tanggung jawab moral kepada para korban, keluarga korban, serta seluruh elemen demokrasi yang menjadi bagian dari perjuangan melawan otoritarianisme.

"Yang menjadi korban bukan hanya kader PDI saat itu, tetapi juga mahasiswa, aktivis, dan berbagai elemen demokrasi lainnya. Sampai hari ini belum ada permintaan maaf secara resmi," ujarnya.

Ia mengaku prihatin karena setelah tiga dekade berlalu, Kudatuli masih sering dipandang sebatas peringatan sejarah tahunan, tanpa diikuti langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan yang ditinggalkannya.

Menurut Seno, penyelesaian masa lalu justru menjadi fondasi penting bagi demokrasi yang sehat. Tanpa keberanian mengakui kesalahan, bangsa ini berisiko kehilangan kesempatan untuk belajar dari sejarah.

"Kalau peristiwa sebesar itu saja tidak pernah diakui sebagai kesalahan negara, bagaimana kita bisa yakin bahwa kejadian serupa tidak akan terulang dalam bentuk yang berbeda di masa depan?" tuturnya.

Seno berharap momentum 30 tahun Kudatuli tidak hanya menjadi ruang mengenang para pejuang demokrasi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa perjuangan menegakkan keadilan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia belum sepenuhnya selesai.

#30tahunkudatuli
#Diponegoro58
#PDIPerjuangan
#MegawatiSoekarnoPutri

Quote