Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Totok Hedi, memberikan pembekalan ideologi kepada pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Kota Yogyakarta di Bale Marhaen, Pengok, Yogyakarta, Kamis (22/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi, penguatan karakter kader, serta peneguhan komitmen perjuangan Marhaenisme dalam menjawab berbagai persoalan sosial dan politik masyarakat.
“Kader Marhaenis harus memahami siapa Marhaen hari ini, bagaimana persoalan yang mereka hadapi, dan di mana posisi kita dalam perjuangan untuk membela kepentingan mereka,” demikian pesan utama yang ditekankan Totok Hedi dalam pembekalan tersebut, dikutip Jumat (23/10/2026).
Pertemuan itu dihadiri sekitar 35 pengurus DPC GPM Kota Yogyakarta di bawah kepemimpinan Jarot Kurniadi. Turut hadir Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga DPP GPM, Antonius Fokki Ardiyanto, serta Wakil Ketua Bidang Hukum, HAM dan Advokasi DPP GPM, Edi Susanto.
Dalam sambutannya, Jarot Kurniadi menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih kepada Totok Hedi yang telah meluangkan waktu untuk berdialog dengan para kader GPM di tengah kesibukannya sebagai anggota DPR RI.
Menurut Jarot, pertemuan dengan tokoh nasional menjadi kesempatan penting bagi kader untuk memperluas wawasan, memperkuat pemahaman ideologi, serta membangun semangat perjuangan yang berpihak pada kepentingan rakyat.
Sementara itu, Antonius Fokki Ardiyanto memaparkan sejarah berdirinya GPM di Kota Yogyakarta yang tidak terlepas dari dinamika dan perjalanan organisasi secara nasional. Ia menekankan bahwa pemahaman terhadap sejarah merupakan bagian penting dalam mengenali jati diri organisasi, arah perjuangan, dan tanggung jawab kader dalam meneruskan cita-cita Marhaenisme.
Fokki juga mengingatkan bahwa organisasi tidak cukup hanya dibangun melalui struktur kepengurusan dan kegiatan seremonial. GPM harus menjadi ruang pembentukan kesadaran ideologis, penggemblengan karakter, serta pengorganisasian kaum muda untuk menjawab persoalan konkret yang dihadapi masyarakat.
Dalam sesi pembekalan utama, Totok Hedi mengajak para pengurus menelusuri sejarah lahirnya konsep Marhaen sekaligus memahami relevansinya dengan kondisi masyarakat saat ini.
Menurutnya, Marhaenisme tidak boleh berhenti sebagai romantisme sejarah atau sekadar slogan politik yang diulang dalam forum organisasi. Ideologi tersebut harus menjadi landasan untuk membaca ketimpangan sosial, ketidakadilan ekonomi, dan berbagai persoalan yang membelenggu kehidupan rakyat kecil.
Totok Hedi juga menekankan pentingnya keteguhan dalam menjalani pilihan hidup berorganisasi. Ia mengingatkan bahwa perjuangan tidak selalu menghadirkan kenyamanan, popularitas, maupun keuntungan material. Sebaliknya, terdapat konsekuensi, pengorbanan, dan tanggung jawab yang harus dijalani setiap kader ketika memilih jalan perjuangan bersama rakyat.
Ia menegaskan bahwa semangat atau passion dalam berorganisasi tidak boleh hanya menjadi dorongan sesaat. Semangat tersebut harus diwujudkan melalui kesediaan untuk terus berjuang, bertahan menghadapi kesulitan, serta memahami penderitaan rakyat sebagai dasar dalam menentukan sikap dan pilihan politik.
Dengan demikian, keberpihakan kepada rakyat harus menjadi ukuran utama bagi kader Marhaenis dalam menjalankan aktivitas organisasi. Pilihan politik tidak semestinya hanya didasarkan pada kepentingan pribadi, jabatan, atau keuntungan sesaat, tetapi harus berangkat dari kesadaran ideologis dan komitmen terhadap perjuangan rakyat.
Dalam kesempatan tersebut, Totok Hedi juga menunjukkan dukungannya terhadap penguatan organisasi melalui semangat gotong royong. Ia turut membantu pengadaan seragam bagi pengurus DPC GPM Kota Yogyakarta sebagai bentuk dukungan terhadap aktivitas dan kekompakan organisasi.
Bagi GPM Kota Yogyakarta, pertemuan tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi dengan anggota DPR RI, melainkan bagian dari proses penggemblengan kader agar memiliki pemahaman ideologi yang kuat, karakter perjuangan yang tangguh, serta keberanian mengambil posisi dalam menghadapi persoalan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, DPC GPM Kota Yogyakarta meneguhkan komitmennya untuk membangun organisasi yang berakar pada nilai-nilai Marhaenisme, menghidupkan tradisi diskusi dan pendidikan politik, serta memperkuat kerja-kerja nyata di tengah rakyat.
Semangat yang dibangun dalam pertemuan tersebut adalah bahwa Marhaenisme tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus dijalani dan diperjuangkan. Ukuran seorang kader Marhaenis bukan semata-mata seberapa lantang berbicara tentang rakyat, melainkan seberapa teguh ia berdiri dan bekerja bersama rakyat dalam menghadapi kenyataan hidup.

















































































