Jakarta, Gesuri.id — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Provinsi Lampung memperingati 30 tahun Peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli) dengan merangkul generasi muda dan mahasiswa.
Momentum ini dijadikan seruan bersama untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan reformasi serta merawat kualitas demokrasi di Indonesia.
Peringatan yang dikemas dalam sarasehan dan malam renungan tersebut digelar di Kantor DPD PDI Perjuangan Provinsi Lampung, Minggu (26/7/2026).
Hadir dalam acara ini jajaran pengurus DPD, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Lampung, perwakilan DPR RI, serta berbagai elemen mahasiswa dan organisasi kepemudaan.

Baca: Ini Resep Ganjar Pranowo Yang Selalu Fit dan Bugar
Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Lampung, Winarti, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan pelaksanaan instruksi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan yang digelar secara serentak di seluruh Indonesia.
Di Lampung, rangkaian acara tidak hanya diisi dengan sarasehan sejarah perjuangan demokrasi, tetapi juga aksi sosial seperti donor darah, pelayanan kesehatan gratis, olahraga bersama, santunan panti asuhan, hingga renungan suci dan doa bersama.
Kegiatan serupa juga serentak dilaksanakan oleh 15 DPC PDI Perjuangan se-Provinsi Lampung.
"Ini adalah semangat kami untuk terus mendukung proses demokrasi yang sudah kita lalui sejak 1998 hingga hari ini. Demokrasi harus terus dijaga dan diteruskan oleh generasi berikutnya," kata Winarti.
Menurut Winarti, kondisi demokrasi Indonesia saat ini jauh lebih baik dibandingkan sebelum era Reformasi 1998. Masyarakat kini memiliki ruang yang jauh lebih luas untuk bersuara, berkumpul, dan berserikat tanpa bayang-bayang tekanan seperti pada masa Orde Baru.
Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa kebebasan yang dinikmati hari ini lahir melalui perjuangan panjang dan pengorbanan banyak pihak. Peristiwa Kudatuli, kata dia, menjadi pengingat abadi bahwa demokrasi tidak diraih dengan mudah, termasuk masih adanya korban hilang yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Oleh karena itu, Winarti berpesan kepada para mahasiswa agar tidak gentar dan tetap berani menyuarakan aspirasi demi kepentingan rakyat.
"Jangan gentar, adik-adik mahasiswa. Kami bersama kalian. PDI Perjuangan memberikan ruang kepada mahasiswa untuk menyampaikan pendapat selama tujuannya membangun Provinsi Lampung dan Indonesia," tegasnya.

Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa
Sebagai mantan aktivis mahasiswa menjelang Reformasi 1998, Winarti turut mengenang beratnya situasi politik saat itu. Ia menceritakan bagaimana dirinya dan keluarga kerap menghadapi intimidasi karena aktif menyuarakan perubahan. Pengalaman tersebut membuatnya berkomitmen agar ruang dialog bagi kaum muda tidak boleh tertutup.
Dalam kesempatan yang sama, Winarti menginstruksikan Fraksi PDI Perjuangan di DPRD Provinsi Lampung untuk selalu terbuka menerima kunjungan dan berdialog dengan mahasiswa maupun masyarakat. Ia juga turut mengapresiasi peran para aktivis perempuan di Lampung, seperti Nur Hasanah, yang ikut membidani sejarah perjuangan demokrasi di daerah.
Menutup rangkaian acara, Winarti mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan persatuan di tengah perbedaan pandangan politik demi kemajuan bersama.
"Kita boleh berbeda pendapat dan berdiskusi, tetapi tujuannya tetap sama, yaitu bagaimana Indonesia, khususnya Lampung, menjadi daerah yang maju dan sejahtera. Jangan sampai kita terpecah belah hanya karena kepentingan pribadi," pungkasnya.

















































































