Ikuti Kami

Politik Identitas Masih Jadi Tantangan 2024

Tantangan yang akan dihadapi lima tahun kedepan masih politik identitas, SARA, radikalisme dan intoleransi. 

Politik Identitas Masih Jadi Tantangan 2024
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Organisasi, Djarot Saiful Hidayat, dalam diskusi jelang Kongres V PDI Perjuangan dengan tajuk Akankah PDI Perjuangan menang lagi di Pemilu 2024? di kantor DPP PDI Perjuangan Jalan Diponegoro No. 58, Menteng, Sabtu (3/8). (Foto: gesuri.id/Elva Nurrul Prastiwi)

Jakarta, Gesuri.id - Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Organisasi, Djarot Saiful Hidayat memperkirakan tantangan pada 2024 masih relatif sama dengan 2019. 

Tantangan yang akan dihadapi lima tahun kedepan masih politik identitas, SARA, radikalisme dan intoleransi. 

Hal itu dikatakan Djarot dalam diskusi jelang Kongres V PDI Perjuangan dengan tajuk Akankah PDI Perjuangan menang lagi di Pemilu 2024? di kantor DPP PDI Perjuangan Jalan Diponegoro No. 58, Menteng, Sabtu (3/8).

“Dan tahun 2024 para penjual politik identitas dan radikalis itu masih gunakan teknologi digital atau medsos,” kata Djarot. 

Oleh sebab itu, Djarot mengatakan PDI Perjuangan akan merumuskan strategi guna menghadapi tantangan itu. 

“Masih ada lima tahun untuk membangun kewarasan di bangsa ini,” kata Djarot. 

 Satu hal yang pasti, lanjut Djarot, PDI Perjuangan akan berjuang untuk mewujudkan diri sebagai partai pelopor. 

Dan untuk bisa menjadi partai pelopor, PDI Perjuangan harus berdisiplin. Kedisiplinan yang harus diterapkan adalah disiplin ideologi, disiplin berorganisasi dan disiplin bersama pergerakan rakyat. 

Baca: Hasto Ungkap Rahasia PDI Perjuangan Bisa Survive 

“Dengan kedisiplinan sebagai partai pelopor inilah, PDI Perjuangan mampu menghadapi politik identitas lima tahun kedepan, tentu dengan menyesuaikan diri dengan zaman, seperti menggunakan teknologi digital,” tegas Djarot. 

Selain Djarot, narasumber lain dalam diskusi ini adalah Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas Hugo Pareira, pengamat politik dari  Indikator Politik Indonesia  Burhanudin Muhtadi serta Selebgram, Feby Elruby. 

Diskusi dipandu oleh Bane Raja Manalu, Founder Magna Indonesia.

Quote