Jakarta, Gesuri.id – Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Wibowo Prasetyo, menggelar silaturahmi bersama puluhan kiai, ustaz, dan gus se-Kabupaten Magelang.
Pertemuan yang dikemas dalam suasana dialog santai ini menjadi ruang diskusi strategis mengenai kebangsaan, keislaman, serta peran krusial umat di tengah masyarakat.
Wibowo memaparkan sejarah dan filosofi berdirinya Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi). Ia menegaskan bahwa Bamusi memiliki misi utama sebagai jembatan yang mempertemukan kalangan nasionalis dengan umat Islam.
Baca: Jangkar Baja Nilai Ganjar Pranowo Sosok Yang Otentik & Konsisten
Wibowo menjelaskan bahwa pendirian Bamusi sebagai organisasi sayap PDI Perjuangan digagas oleh almarhum Taufiq Kiemas. Semangatnya adalah menghapus dikotomi antara Islam dan nasionalisme.
"PDI Perjuangan bukan hanya rumah bagi kaum nasionalis, tetapi juga rumah kebangsaan yang sangat menghormati nilai-nilai Islam. Bamusi hadir untuk membangun Islam dalam bingkai NKRI dan Islam yang Rahmatan Lil 'alamin," ujar politisi dari Dapil Jawa Tengah VI tersebut.
Sebagai catatan sejarah, Bamusi diluncurkan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri pada 2007 silam. Pendiriannya didukung penuh oleh tokoh-tokoh besar lintas organisasi, seperti KH Said Aqil Siroj, Din Syamsuddin, hingga almarhum KH Hasyim Muzadi.
Menjaga Akar Budaya: "Aja Ilang Jawane"
Gayung bersambut, para tokoh agama yang hadir berharap Bamusi dapat bergerak lebih masif hingga ke akar rumput. Syarif Al Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Syarif dari Grabag, menekankan pentingnya harmoni antara agama dan budaya lokal, khususnya di tanah Jawa.
Baca: Ganjar Membuktikan Dirinya Sebagai Sosok Yang Inklusif
"Kita perlu menjembatani pikiran dan tindakan antara Islam dan budaya kultural. Jangan sampai orang Islam kehilangan akar budayanya. Istilahnya, aja nganti wong Islam ilang Jawane (jangan sampai orang Islam hilang Jawanya)," tegas Gus Syarif.
Ia mengusulkan agar Bamusi mengedepankan pendekatan dakwah yang membumi, seperti melalui kegiatan selawat yang dipadukan dengan kesenian lokal seperti gamelan dan terbangan. Menurutnya, akulturasi ini efektif mendekatkan masyarakat pada nilai agama tanpa harus mencabut warisan leluhur.
Dialog yang berlangsung cair ini diharapkan menjadi pemantik gerakan bersama yang menyatukan ideologi nasionalisme, religiositas, dan kearifan lokal demi menjaga persatuan bangsa.

















































































