Ikuti Kami

Dari Dapur Umum hingga Sungai yang Meluap: Risma Masak Rendang untuk Korban Bencana Agam

Di tengah lumpur, banjir, dan kelelahan warga, kehadiran Risma di dapur umum—mengaduk rendang dengan tangan sendiri

Dari Dapur Umum hingga Sungai yang Meluap: Risma Masak Rendang untuk Korban Bencana Agam
Rabu (31/12), Ketua Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDI Perjuangan itu tak sekadar datang menyalurkan bantuan. Ia ikut mengaduk rendang, menyapa relawan, dan memastikan satu hal sederhana namun penting: para korban bencana bisa makan dengan layak - Foto: Gen Banteng

Agam, Gesuri.id - Aroma rendang mengepul dari dapur umum di Jorong Lubuak Anyia, Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Di antara kepulan asap dan denting sendok besar yang mengaduk kuali, tampak sosok Tri Rismaharini—mantan Menteri Sosial dan mantan Wali Kota Surabaya—turun tangan seperti seorang ibu di tengah dapur rumahnya sendiri.

Rabu (31/12), Ketua Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDI Perjuangan itu tak sekadar datang menyalurkan bantuan. Ia ikut mengaduk rendang, menyapa relawan, dan memastikan satu hal sederhana namun penting: para korban bencana bisa makan dengan layak.

“Sejak jam berapa masak rendangnya ini, Buk?” tanya Risma kepada salah seorang petugas dapur umum, sembari terus mengaduk masakan.

“Dari jam sembilan pagi, Bu,” jawab petugas tersebut.

Mendengar itu, Risma mengangguk. Ia mengapresiasi kerja para relawan yang sejak pagi berjibaku di dapur demi memastikan ratusan warga terdampak tetap mendapatkan makanan hangat. Kehadirannya pun disambut hangat—bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai sosok ibu yang datang membawa perhatian dan kepedulian.

Dari dapur umum di Posko DPC PDI Perjuangan Tanjung Raya, Risma kemudian menyerahkan berbagai bantuan untuk warga terdampak bencana. Bantuan tersebut meliputi tiga unit mesin pompa air, tiga toren, selimut, cangkul, pakaian, peralatan dapur, mesin penjernih air, selang pompa, sepatu boot, hingga perlengkapan pendukung lainnya.

Namun perhatian Risma tak berhenti pada bantuan logistik. Ia juga duduk dan berdialog langsung dengan warga, mendengarkan satu per satu aspirasi yang disampaikan. Salah satu keluhan utama adalah kebutuhan alat berat untuk mempercepat normalisasi Sungai Muaro Pisang di Nagari Maninjau dan Sungai Asam di Nagari Koto Kaciak—dua titik yang kerap menjadi sumber luapan banjir.

Menanggapi hal itu, Risma langsung mengambil keputusan di tempat. Ia memerintahkan Yogi Yolanda, putra daerah setempat, untuk mengoordinasikan penyediaan alat berat.

“Untuk kebutuhan alat berat, saya serahkan semuanya ke Yogi saja,” ujarnya singkat, namun tegas.

Setelah dari Nagari Bayua, Risma dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke posko pengungsian di Nagari Maninjau. Ia juga direncanakan bermalam di Maninjau sebelum melanjutkan perjalanan ke Malalo, Kabupaten Tanah Datar, pada Jumat pagi, guna kembali menyalurkan bantuan bagi warga terdampak bencana.

Di tengah lumpur, banjir, dan kelelahan warga, kehadiran Risma di dapur umum—mengaduk rendang dengan tangan sendiri—menjadi simbol bahwa kepedulian tak selalu harus disampaikan lewat pidato. Terkadang, ia hadir dalam bentuk sepanci masakan hangat dan telinga yang mau mendengar. Seperti seorang ibu, yang memastikan semua anaknya tetap kuat di tengah cobaan.

Quote