JAKARTA — Seniman besar sekaligus politisi senior PDI Perjuangan, Guruh Soekarnoputra, meninggal dunia pada Sabtu pagi pukul 04.26 WIB. Keluarga besar partai berlambang bul kepala banteng tersebut menyampaikan duka mendalam atas kepergian salah satu tokoh pilar kebudayaan nasional.
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menyatakan bahwa almarhum merupakan sosok yang tidak terpisahkan dari sejarah dan denyut nadi perjuangan partai. Selain dikenal sebagai marhaenis sejati, Guruh adalah maestro seni yang menciptakan Mars PDI Perjuangan.
"Beliau tidak hanya pejuang partai, tetapi juga seniman besar, marhaenis sejati, dan juga sosok yang begitu dekat dengan seluruh napas kehidupan partai karena Mas Guru ini yang menciptakan Mars PDI Perjuangan," ujar Hasto kepada awak media.
Hasto mengungkapkan, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memberikan perhatian khusus dan pengawasan detail terhadap proses medis sang adik kandung selama masa perawatan di rumah sakit. Megawati tercatat beberapa kali mendatangi rumah sakit dan berkoordinasi langsung dengan tim dokter ahli.
"Ibu Megawati sangat detail terkait perawatan dan perhatian, apalagi ini bagi adik kandung yang begitu beliau cintai. Tadi malam saya melaporkan kepada beliau, dan tadi pagi setelah Mas Guru dipanggil Tuhan, saya juga kembali melaporkan bahwa partai memberikan penghormatan terbaik," tuturnya.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan dedikasi almarhum, PDI Perjuangan menginstruksikan seluruh kader dari tingkat pusat hingga anak ranting untuk mendoakan almarhum serta mengibarkan bendera setengah tiang di kantor-kantor partai.
Jenazah Guruh Soekarnoputra rencananya akan dimakamkan berdampingan dengan makam ibundanya, Ibu Fatmawati. Pemakaman ini merefleksikan kedekatan emosional almarhum, yang sebelumnya juga mendedikasikan karya lagu khusus berjudul "Melati Suci" untuk mengenang sang ibunda.
Menutup keterangannya, Hasto menambahkan bahwa almarhum telah mempersiapkan kain kafan secara mandiri sejak menunaikan ibadah haji. Persiapan tersebut dinilai sebagai cerminan kesadaran filosofis almarhum bahwa setiap manusia harus senantiasa siap menghadap Sang Pencipta dengan meninggalkan legasi terbaik bagi bangsa dan negara.

















































































