Ikuti Kami

Rokhmin Dahuri Salurkan Program Bantuan Budidaya Ikan dengan Sistem Bioflok

Rokhmin: Saya berusaha membawa bantuan baik dari Kementerian Pertanian maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Rokhmin Dahuri Salurkan Program Bantuan Budidaya Ikan dengan Sistem Bioflok
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Rektor Universitas UMMI Bogor, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan pembudidaya ikan di Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, melalui program bantuan budidaya ikan dengan sistem bioflok.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Rektor Universitas UMMI Bogor, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan pembudidaya ikan di Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, melalui program bantuan budidaya ikan dengan sistem bioflok.

“Alhamdulillah, sebagai bentuk terima kasih kepada pemilih saya saat berjuang di DPR RI tahun lalu untuk Indramayu, Cirebon, dan Kabupaten Cirebon, saya berusaha membawa bantuan baik dari Kementerian Pertanian maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan. Salah satunya adalah program bioflok ini senilai Rp200 juta,” kata Rektor Universitas UMMI Bogor, Minggu (4/1).

Program bantuan bioflok tersebut kini mulai dikelola oleh masyarakat Desa Kenanga. Sebanyak delapan kolam bioflok dikelola secara berkelompok oleh 10 orang pembudidaya ikan dengan pendampingan penyuluh perikanan setempat. 

Panen perdana direncanakan berlangsung pada Februari mendatang, disertai agenda kunjungan lapangan pada 11 Januari sebagai bagian dari pemantauan dan pendampingan program.

Total bantuan yang digelontorkan mencapai Rp200 juta, meliputi pembangunan atap, pembuatan kolam bioflok, serta penyediaan pakan untuk satu siklus produksi. Bantuan ini diharapkan menjadi titik awal pengembangan usaha perikanan yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan di Desa Kenanga.

Dengan penerapan sistem bioflok, pembudidaya tidak hanya bergantung pada pakan buatan, tetapi juga memanfaatkan bakteri baik yang mengolah sisa pakan menjadi pakan alami. Metode ini dinilai mampu menekan biaya produksi, ramah lingkungan, serta meningkatkan efisiensi dan produktivitas budidaya ikan.

Diperkirakan, setelah panen perdana, setiap anggota kelompok akan memperoleh penghasilan bersih sekitar Rp2,5 juta. Namun demikian, Prof. Rokhmin mendorong agar sebagian hasil tersebut disisihkan untuk pengembangan usaha ke depan.

“Saya berpesan agar Rp2,5 juta itu dibagi, tetapi Rp500 ribu disimpan untuk menambah jumlah kolam. Dengan begitu, tahun depan bukan hanya Rp2,5 juta, melainkan bisa Rp4 juta dan seterusnya,” ucap Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004.

Selain aspek pengelolaan keuangan, ia juga menekankan pentingnya etos kerja dan perawatan sarana prasarana bantuan agar manfaat program dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Bekerjalah dengan rajin, jangan malas. Rawatlah fasilitas dari pemerintah dengan baik supaya bisa terus memberi manfaat,” tegasnya.

Keunggulan Desa Kenanga yang berada di kawasan industri kerupuk ikan turut menjadi nilai tambah bagi keberhasilan program ini. Hasil budidaya bioflok dapat langsung diserap oleh pabrik-pabrik kerupuk ikan di sekitar wilayah tersebut, sehingga rantai distribusi lebih pendek, harga lebih stabil, dan nilai ekonomi pembudidaya meningkat.

Melalui program bioflok ini, masyarakat Desa Kenanga diharapkan mampu bekerja secara profesional, menjaga amanah bantuan pemerintah, serta menyisihkan sebagian keuntungan untuk pengembangan usaha. Dengan pengelolaan yang baik dan pemasaran yang tepat, program bioflok di Desa Kenanga berpotensi menjadi model sukses pemberdayaan ekonomi lokal berbasis perikanan.

Quote