Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi II DPR RI dari fraksi PDI Perjuangan, Romy Soekarno, menyoroti keterbatasan sarana penunjang digitalisasi di Politeknik STIA LAN Bandung saat melakukan kunjungan kerja spesifik terkait pengawasan penyelenggaraan sekolah kedinasan dan penguatan fungsi sumber daya manusia kementerian dalam lingkup pengawasan Komisi II DPR RI, dikutip Sabtu (14/3/2026).
“Saya melihat di sini ada catatan penting, bahwa hanya terdapat dua laboratorium komputer dengan 60 unit komputer untuk 1.729 mahasiswa. Kita sering bicara digitalisasi, tetapi fasilitas yang tersedia masih terbatas. Hal ini yang perlu kita benahi,” ujar Romy.
Romy menyampaikan hal tersebut setelah mendengar paparan dari Direktur Politeknik STIA LAN Bandung, Muhamad Nur Afandi, yang menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama dalam penyelenggaraan pendidikan di kampus tersebut adalah keterbatasan fasilitas laboratorium komputer.
Saat ini, Politeknik STIA LAN Bandung hanya memiliki dua laboratorium komputer dengan total 60 unit komputer yang digunakan oleh sekitar 1.729 mahasiswa. Kondisi tersebut dinilai belum sebanding dengan kebutuhan pembelajaran berbasis teknologi yang terus berkembang.
Menanggapi kondisi tersebut, Romy menilai penguatan infrastruktur digital perlu segera dilakukan agar sejalan dengan agenda transformasi digital pemerintahan. Menurutnya, penguasaan teknologi menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki calon aparatur sipil negara.
“Indonesia masih perlu memperkuat penguasaan teknologi dasar terlebih dahulu sebelum kita berbicara lebih jauh mengenai pemanfaatan AI dalam sistem pemerintahan,” tegasnya.
Legislator dari daerah pemilihan Jawa Timur VI itu juga menekankan pentingnya kemandirian teknologi nasional, khususnya dalam pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurut Romy, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar teknologi global, tetapi harus mampu menjadi pelaku utama dalam pengembangan teknologi digital yang berbasis pada potensi dan pengetahuan nasional.
“Kita jangan hanya menjadi market, tetapi harus menjadi leader. Indonesia harus memiliki AI sendiri yang datanya berasal dari pengetahuan dan kekayaan bangsa kita sendiri. Dengan begitu, mahasiswa bisa belajar dan bertanya pada AI yang berbasis pada pengetahuan Indonesia,” pungkas Romy.

















































































