Jakarta, Gesuri.id - Politikus PDI Perjuangan sekaligus Anggota Komisi XI DPR RI periode 2019–2024, Hendrawan Supratikno, menganalisis alasan Presiden Prabowo Subianto mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dari posisi Menteri Keuangan (Menkeu).
Hendrawan menilai keputusan mengganti Purbaya dipengaruhi oleh minimnya pengalaman di bidang pengelolaan keuangan negara, gaya komunikasi yang terlalu spontan, serta belum optimalnya kemampuan mengharmonisasi kepentingan berbagai pihak.
"Purbaya tidak memiliki pengalaman tersebut. Komentar-komentarnya sering terlalu spontan dan prematur saat proses negosiasi masih berlangsung. Padahal, seni menjaga aspirasi di satu sisi, sekaligus mengamankan alokasi dan limitasi anggaran di sisi lain sangat krusial bagi pemegang otoritas anggaran," ujar Hendrawan saat dihubungi Kedai Pena, Selasa (15/9).
Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa
Selain itu, Hendrawan mengkritik kinerja Purbaya selama menjabat yang dinilai belum memperlihatkan hasil konkret. Berbagai target dan janji manis, seperti penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga dorongan pertumbuhan ekonomi tinggi, dinilai masih jauh dari realisasi.
"Kinerjanya belum terlihat jelas, kecuali komentar-komentarnya yang ceplas-ceplos. Janji-janjinya masih jauh dari terwujud, seperti indeks saham yang terus menguat, kaya bersama karena pertumbuhan ekonomi tinggi, hingga fundamental ekonomi yang tahan guncangan," tuturnya.
"Target tersebut terlalu muluk di tengah kondisi politik-ekonomi yang sarat ketidakpastian," lanjut Hendrawan.
Alasan Prabowo Menunjuk Suahasil Nazara
Di sisi lain, Hendrawan menilai penunjukan Suahasil Nazara sebagai Menkeu baru merupakan langkah strategis Prabowo. Pengalaman panjang Suahasil di kementerian tersebut menjadi modal utama untuk menyelaraskan berbagai dinamika politik anggaran.
"Pengalaman itu sangat penting untuk menjalankan tugas sebagai Menkeu, terutama dalam mengharmonisasi kepentingan para pihak, termasuk menyerap aspirasi mitra kerja DPR yang disalurkan melalui Badan Anggaran," jelasnya.
Lebih lanjut, Hendrawan menyoroti gelombang perombakan di jajaran pimpinan sektor ekonomi dan keuangan, mulai dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), hingga Kementerian Keuangan. Menurutnya, hal ini menjadi sinyal kuat bahwa Presiden belum sepenuhnya puas terhadap jajaran tim ekonominya.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
"Konsolidasi visi ekonomi ke depan tampaknya belum mencapai tahap yang solid," ungkapnya.
Menutup keterangannya, Hendrawan memaparkan sejumlah tugas berat yang menanti Suahasil. Ia mendesak Menkeu baru tersebut fokus pada isu strategis:
- Pengelolaan dana transfer ke daerah,
- Menjaga kredibilitas APBN,
- Melanjutkan efisiensi anggaran dengan memangkas program non-produktif,
- Menjaga daya beli masyarakat, serta
- Menjamin keakuratan data ekonomi makro agar terbebas dari gimik yang dinilai pasar.

















































































