Ikuti Kami

Jangan Salahkan Anak Muda, Pulung Agustanto Desak Evaluasi Total Kebijakan Ketenagakerjaan

Pulung Agustanto, menyoroti tajam tingginya angka pengangguran di kalangan anak muda Indonesia.

Jangan Salahkan Anak Muda, Pulung Agustanto Desak Evaluasi Total Kebijakan Ketenagakerjaan
Anggota Komisi IX DPR RI, Pulung Agustanto.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IX DPR RI, Pulung Agustanto, menyoroti tajam tingginya angka pengangguran di kalangan anak muda Indonesia. Ia menegaskan bahwa maraknya pemuda yang menganggur bukan akibat dari kemalasan atau kurangnya kemampuan mereka, melainkan cerminan kegagalan sistemik dan ego sektoral antar-lembaga pemerintah.

​Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) usia muda mencapai 17,37 persen—angka yang jauh melampaui rata-rata TPT nasional sebesar 4,65 persen. Kondisi ini memperlihatkan jurang pemisah yang semakin lebar antara pertumbuhan angkatan kerja dan ketersediaan lapangan kerja berkualitas.

​"Pasokan angkatan kerja kita bertambah besar setiap tahun, tetapi lapangan kerjanya tidak ada," tegas Pulung.

Baca: Ganjar Pranowo Sosok Pemimpin yang Disukai Semua Kalangan

​Berikut adalah poin-poin krusial yang ditegaskan Pulung Agustanto terkait krisis pengangguran muda di Indonesia:

- ​Ego Sektoral dan Kebijakan yang 'Jomblo'

Pulung menilai ada ketidakselarasan fatal antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan industri. Akibatnya, industri kesulitan mencari tenaga terampil, sementara jutaan lulusan sekolah dan perguruan tinggi menganggur.

“Ini alarm serius. Kebijakan pendidikan dan desain kebijakan industri seperti dua dunia yang terpisah. Yang menjadi korban adalah anak-anak muda kita karena ego sektoral yang tidak pernah selesai,” kritik Pulung.

- ​Sistem yang Salah, Bukan Generasi Mudanya

Pulung mendesak pemerintah untuk berhenti melimpahkan kesalahan kepada generasi muda saat mereka sulit menembus dunia kerja. Ia meminta pemerintah berani introspeksi dan mengevaluasi total desain kebijakan nasional.

“Anak-anak muda kita dididik dalam sistem pendidikan nasional yang dirancang oleh pemerintah. Kalau setelah lulus mereka kesulitan dapat kerja, jangan buru-buru menyalahkan mereka. Harusnya yang dievaluasi adalah desain kebijakannya, bukan menyalahkan anak muda sebagai korban dari kebijakan yang tidak pas,” ujarnya.

Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa

- ​Ancaman Bencana Demografi dan Keresahan Sosial

Melimpahnya penduduk usia produktif seharusnya menjadi bonus demografi. Namun, jika anak muda terus dibiarkan tanpa akses pekerjaan yang layak, potensi emas ini justru berisiko menjadi bom waktu sosial.

“Ini bukan hanya soal angka pengangguran, tapi menyangkut masa depan ekonomi Indonesia. Anak muda yang tidak mendapatkan pekerjaan dalam waktu lama tentu bisa menjadi sumber keresahan sosial,” kata Pulung memperingatkan.

​Pulung mendesak pemerintah tidak hanya mengejar penurunan angka statistik pengangguran semata, tetapi juga menciptakan lapangan kerja yang produktif, berkualitas, dan berkelanjutan.

​"Bonus demografi itu tidak mungkin berulang. Kalau momentum ini gagal kita manfaatkan, berarti kita telah melewatkan satu peluang emas untuk membangun masa depan Indonesia," pungkasnya.

Quote