Ikuti Kami

Andreas Hugo  Dorong Optimalisasi Pemanfaatan Istana Kepresidenan Tampaksiring 

DPR RI mengapresiasi strategi komunikasi publik melalui program “Istana untuk Rakyat (ISTURA).

Andreas Hugo  Dorong Optimalisasi Pemanfaatan Istana Kepresidenan Tampaksiring 
Wakil Ketua Komisi XIII DPR Andreas Hugo Pareira.

Jakarta, Gesuri.id -  Komisi XIII DPR RI mendorong  optimalisasi pemanfaatan Istana Kepresidenan Tampaksiring (IKT) pada sektor keparawisataan sebagai salah satu sumber Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Demikian salah satu poin penting dari kesimpulan Rapat Dengar Pendapat (RDP) tim Kunjungan Kerja Spesifik (Kunspek) Komisi XIII DPR RI dengan Kementerian Sekretariat Negara (Kemensesneg) yang membahas pengawasan pengelolaan, pemeliharaan, dan pemanfaatan IKT di IKT, Kabupaten Gianyar, Bali (11/2).

Kunspek dimulai dengan acara peninjauan beberapa spot utama IKT, seperti Wisma Negara, Wisma Merdeka, museum, dan beberapa bangunan penunjang lain yakni Jembatan Persahabatan yang menghubungkan Wisma Negara dan Wisma Merdeka serta Gedung Kori Agung.

Baca: Ganjar Pranowo Tekankan Pentingnya Kritik

RDP berlangsung  di Graha Bung Karno, bangunan yang didirikan pada era Presiden Megawati, yang pernah digunakan sebagai gedung konferensi KTT ASEAN pada tahun 2003.

“Tim Kunker Spesifik Komisi XIII DPR RI mendorong  optimalisasi pemanfaatan Istana Kepresidenan Tampaksiring pada sektor kepariwisataan sebagai salah satu sumber Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP),” kata Dr. Andreas Hugo Paraira, Wakil Ketua Komisi XIII DPR sekaligus ketua tim kunjungan.

“Komisi XIII DPR RI mengapresiasi strategi komunikasi publik melalui program “Istana untuk Rakyat (ISTURA)”, yang menunjukkan tingkat kepuasan publik sangat tinggi, dan mendorong agar program edukasi sejarah dan fungsi kenegaraan ini terus dikembangkan secara terukur tanpa mengurangi aspek keamanan dan pelestarian cagar budaya,” tambah Andreas yang juga adalah Ketua DPP PDI Perjuangan.

Selama ini, kata Erry Hermawan, Kepala IKT kepada IndonesiaSatu.co, pemanfaatan IKT hanya sebatas untuk mendukung tugas-tugas kepresidenan dan penyambutan tamu kenegaraan. IKT juga terbuka untuk umum tanpa berorientasi untuk mendatangkan pendapatan bagi negara lewat program ISTURA.

“ISTURA adalah program kunjungan masyarakat ke istana kepresidenan tanpa dipungut biaya apa pun alias gratis,” kata pria yang akrab disapa Erry.

Dikutip dari laman Kementerian Sekretariat Negara (www.setneg.go.id),  IKT berada di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar Pulau Bali, lebih kurang 40 kilometer dari Denpasar.

Kawasan Istana ini berada pada ketinggian lebih kurang 700 meter dari permukaan laut dan memiliki curah hujan yang cukup tinggi, dan berlokasi di atas perbukitan. Oleh karena itu hawa di lingkungan Istana cukup sejuk dan cenderung dingin pada malam hari, terutama pada musim kemarau.

IKT merupakan satu-satunya Istana Kepresidenan yang dibangun setelah Kemerdekaan Indonesia. Pembangunannya dimulai tahun 1957 sampai dengan tahun 1960. Dalam rangka menyongsong kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV (ASEAN Summit XIV) yang diselenggarakan pada tanggal 7 - 8 Oktober 2003, Istana Tampaksiring menambah bangunan baru berikut fasilitas-fasilitasnya, yaitu gedung untuk konferensi dan untuk resepsi, serta Balai Wantilan sebagai gedung pergelaran kesenian.

Pemandangan alam di sekitar Istana Tampaksiring sangat indah. Di sebelah utara tampak Gunung Batur dan agak ke arah timur tampak Gunung Agung.

Di atas tanah yang berbukit itulah berdiri bangunan- bangunan utama istana, di sekeliling Istana terhampar kawasan yang asri diselingi dengan perkampungan khas Bali serta persawahan berteras-teras yang seolah-olah dipahat di punggung-punggung bukit.

Legenda Nama Tampaksiring

Nama Tampaksiring berasal dari dua buah kata bahasa Bali yaitu tampak (bermakna ”telapak”) dan siring (bermakna “miring”). Konon, menurut sebuah legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas tapak kaki seorang raja bernama Mayadenawa.

Raja ini pandai dan sakti, tetapi sayangnya ia bersifat angkara murka. Raja ini juga menganggap dirinya dewa dan menyuruh rakyatnya untuk menyembahnya. Akibat dari tabiat Mayadenawa itu, Batara Indra marah dan mengirimkan bala tentaranya untuk menghancurkan Mayadenawa. Mayadenawa pun lari masuk hutan.

Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak

Agar para pengejarnya kehilangan jejak, ia berjalan dengan memiringkan telapak kakinya. Dengan begitu ia berharap para pengejarnya tidak mengenali bahwa jejak yang ditinggalkannya itu ialah jejak manusia/jejaknya.

Pada akhirnya usaha Mayadewana gagal. Ia ditangkap para pengejarnya. Dengan sisa-sisa kesaktiannya ia berhasil menciptakan mata air yang beracun yang menyebabkan banyak kematian para pengejarnya setelah mereka meminum air dari mata air tersebut.

Batara Indra kemudian menciptakan mata air yang lain sebagai penawar air beracun tersebut. Air penawar racun itu kemudian bernama Tirta Empul (bermakna “air suci”). Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa dengan berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah yang kemudian dikenal dengan nama Tampaksiring.

Menurut riwayatnya, di salah satu sudut kawasan Istana Tampaksiring, menghadap kolam Tirta Empul di kaki bukit, dulu pernah ada bangunan peristirahatan milik Kerajaan Gianyar. Di atas lahannya sekarang berdiri Wisma Merdeka, yaitu bagian Istana Tampaksiring yang pertama kali dibangun.

Quote