Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi V DPR RI Mukhlis Basri mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan pemberian kompensasi bagi masyarakat yang terdampak tingginya intensitas angkutan batu bara di jalur kereta api Lampung–Palembang.
Desakan tersebut disampaikan Mukhlis dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan di Gedung Nusantara, baru-baru ini.
"Turut berduka cita, Pak. Tepatnya jam 7 kurang, terjadi kecelakaan di Lampung Utara, rel kereta api dari Lampung menuju Palembang, yaitu dua orang korban meninggal dunia dan merupakan pelajar SMA usia 17 tahun. Mudah-mudahan meninggal dalam keadaan husnul khotimah," kata Mukhlis, dikutip Jumat (17/7/2026).
Sebelum memasuki agenda pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA K/L) serta Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun Anggaran 2027, Mukhlis terlebih dahulu menyampaikan belasungkawa atas kecelakaan di perlintasan kereta api Sungkai Utara, Kabupaten Lampung Utara, yang terjadi pada pagi hari yang sama dan menewaskan dua pelajar.
Dalam rapat tersebut, Mukhlis memaparkan jalur kereta api di Lampung saat ini didominasi oleh angkutan batu bara hasil kerja sama PT KAI dan PT Bukit Asam. Menurutnya, frekuensi perjalanan yang sangat tinggi membuat masyarakat harus menghabiskan banyak waktu menunggu di perlintasan kereta.
"Lampung dan Sumatera Selatan ini adalah angkutan batu bara tersibuk di Indonesia. Setiap 22 menit, angkutan kereta ini lewat dengan 60 gerbong dan memakan waktu 10-15 menit. Ini menyebabkan kerugian waktu dan bahan bakar (BBM) bagi masyarakat di Lampung. Sementara pendapatan yang didapat dari angkutan batu bara ini mencapai triliunan rupiah per tahun," tegasnya.
Mukhlis menilai kondisi tersebut telah menimbulkan beban bagi masyarakat yang setiap hari harus melintasi jalur kereta api. Karena itu, ia mempertanyakan bentuk tanggung jawab pemerintah maupun pihak terkait atas dampak yang dirasakan warga, termasuk kemungkinan pemberian kompensasi bagi masyarakat terdampak.
Selain menyoroti angkutan batu bara, Mukhlis juga mengangkat persoalan ketimpangan kualitas layanan kereta api penumpang antara Sumatera dan Pulau Jawa. Ia menilai wilayah Lampung dan Sumatera Selatan yang memiliki jumlah penduduk besar sudah selayaknya memperoleh layanan transportasi perkeretaapian yang lebih baik.
"Kami berharap untuk kereta angkutan massa ini kiranya ditingkatkan. Jika kita punya kereta api yang bagus seperti di Pulau Jawa, saya kira ini akan menjadi angkutan idaman bagi masyarakat Sumatera," pungkasnya.

















































































