Ikuti Kami

Apakah Sukarno Seorang Diktator?

Oleh: Guntur Soekarno, Ketua Dewan Ideologi DPP PA GMNI/Pemerhati Sosial.

Apakah Sukarno Seorang Diktator?
Guntur Soekarno, Ketua Dewan Ideologi DPP PA GMNI/Pemerhati Sosial.

Jakarta, Gesuri.id - Ketika di Sumatera dan Sulawesi pecah pemberontakan PRRI dan Permesta yang didukung oleh partai Masyumi juga partai PSI (Partai Sosialis Indonesia) Bung Karno sebagai Panglima Tertinggi ABRI yang ketika itu berada di luar negeri, kalau penulis tidak salah ingat sedang berada di Amerika Serikat. 

Di atas kertas toilet Bung Karno menulis instruksi agar Kolonel Ahmad Yani Kolonel Bejo dan Kaharudin Nasution segera mengatasi pemberontakan tersebut. 

Instruksi tersebut dikirim oleh ahli sandi dari Badan Pusat Intelijen (BPI) Letkol Nelson Tobing melalui jaringan State Departemen Amerika Serikat.

Setelah pemberontakan-pemberontakan tersebut dapat diatasi dengan sukses oleh TNI dan Bung Karno sudah kembali ke Jakarta Bung Karno mengadakan penyelesaian secara politis agar semua permasalahannya selesai tuntas. 

Adapun penyelesaian politisnya adalah antara lain:
•    Partai Masyumi dibubarkan dan Moh. Natsir Ketua Umumnya ditahan.
•    Partai PSI juga dibubarkan Ketuanya Sutan Sjahrir ditahan.
•    Buya Hamka yang merupakan sahabat dekat pribadi Bung Karno dengan berat hati juga ditahan karena menjadi anggota teras partai Masyumi.

Akibat tindakan-tindakan tegasnya tersebut kalangan oposisi menuding Bung Karno adalah seorang diktator layaknya Hitler; Stalin dan lain sebagainya. Apakah benar tudingan-tudingan tersebut?

Baiklah penulis akan mengutarakan hal-hal penting yang sebenarnya terjadi di belakang layar.

Detasemen Kawal Pribadi Presiden 

Ketika kejadian tersebut diatas terjadi Resimen Cakrabirawa belum dibentuk. Ring 1 yang membentengi keselamatan Presiden saat itu adalah DKP atau Detasemen Kawal Pribadi.

DKP terdiri 4 tim yaitu:
1.    Tim Kepresidenan
2.    Tim Ibu Negara
3.    Tim Putra-Putri
4.    Tim Khusus

Jauh hari sebelum PRRI; Permesta meledak Bung Karno sudah menganalisa bahwa dalam proses membentuknegara bangsa apalagi bentuknya adalah suatu negara Kesatuan Republik Indonesia menurut sejarah pasti akan terjadi pemberontakan-pemberontakan di tubuh bangsa.

Oleh sebab itu Bung Karno jauh-jauh hari sudah mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan bila pemberontakan terjadi contohnya ketika meledak pemberontakan komunis di Madiun. Bung Karno siap dengan “pilih Sukarno-Hatta atau Musso!”

Nyatanya pemberontakan Madiun dapat diatasi dan selesai. Untuk menghadapi pemberontakan yang lainnya Bung Karno telah mempersiapkan “senjata” baru untuk menghadapinya.

Memilih seorang kader Masyumi yang terbaik

Dari seluruh anggota-anggota Brigade Mobil Detasemen Kawal Pribadi riwayat hidupnya diteliti oleh Bung Karno satu persatu. Ternyata terpilihlah seorang anggota DKP dari Tim Putra-Putri yaitu: Brigpol Zaenuri Kadri.

Sebelum menjadi polisi Ia sudah berkecimpung aktif di bidang politik sebagai kader andalan GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) di daerahnya. GPII adalah organisasi massa pemuda dari partai Masyumi; akan tetapi ia sangat bersimpati pada Bung Karno dan keluarganya.

Setelah mendapatkan indoktrinasi intensif langsung dari Bung Karno selama berbulan-bulan Ia berubah menjadi seorang kader Sukarnois yang handal.

Ketika Bung Karno hendak membubarkan Masyumi, Zainuri ditugasi oleh Bung Karno untuk menghubungi Pimpinan Masyumi Mr. Roem kemudian Moh. Natsir dengan tugas memberitahukan agar Natsir memecat anggota-anggota Masyumi yang terlibat PRRI. 

Dengan begitu Bung Karno tidak akan menangkap pimpinan dan membubarkan partai Masyumi. Nyatanya opsi Bung Karno via Zainuri tersebut ditolak mentah-mentah oleh Moh. Natsir. Maka dengan terpaksa Bung Karno mengambil tindakan tegas terhadap partai dan pimpinan Masyumi.

Proses ini juga berlangsung terhadap partai PSI (Partai Sosialis Indonesia), Zainuri ditugaskan menemui pimpinan PSI Sutan Sjahrir namun yangbersangkutan menolak permintaan Bung Karno.

Terhadap Buya Hamka yang sahabat kental dari pribadi Bung Karno,  Zaenuri pun telah menyampaikan pesan Bung Karno agar mengundurkan diri dari Masyumi namun Buya menolak. Dengan sedih hati terpaksa Buya Hamka ditahan.

Pembaca kurang lebih begitulah kejadian penting yang terjadi di belakang layar yang diambil oleh Bung Karno yang tidak pernah dilakukan oleh diktator-diktator dunia seperti Hitler; Mussolini bahkan Stalin.

Jadi menurut penulis Bung Karno berusaha memperlakukan mereka secara bijak dan manusiawi namun mereka menolak maka terpaksa tindakan tegas harus diambil demi proses pembentukan negara bangsa NKRI dapat berlanjut.

Semoga para pemimpin saat ini dapat bercermin untuk berlaku bijak seperti Bung Karno dalam mempertahankan eksistensi NKRI sepanjang zaman demi anak cucu kita!

Jakarta, 5 Januari 2026

 

Quote