Ikuti Kami

Darmadi Heran Pertumbuhan Laba PT Telkom Hanya 1,4 Persen: Harus Jadi Perhatian

“Telkom ini sudah menjadi raksasa. Asetnya besar, infrastrukturnya besar, bisnisnya juga besar."

Darmadi Heran Pertumbuhan Laba PT Telkom Hanya 1,4 Persen: Harus Jadi Perhatian
Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto, mengapresiasi kinerja dan arah transformasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk yang kini memiliki aset dan infrastruktur digital berskala besar. Namun, ia mengingatkan perusahaan pelat merah tersebut agar tidak berhenti pada restrukturisasi dan efisiensi, melainkan memperkuat mesin pertumbuhan baru untuk meningkatkan laba dan nilai perusahaan.

“Telkom ini sudah menjadi raksasa. Asetnya besar, infrastrukturnya besar, bisnisnya juga besar. Tetapi kita harus melihat satu hal penting: pertumbuhan labanya hanya sekitar 1,4 persen. Ini yang harus menjadi perhatian,” ujar Darmadi di Jakarta, dikutip Jumat (9/10/2026).

Pada Semester I 2026, Telkom mencatat pendapatan sebesar Rp75,9 triliun dengan laba Rp10,6 triliun. Perusahaan juga memiliki lebih dari 211 ribu kilometer jaringan fiber, 301 ribu base transceiver station (BTS), 45 ribu tower, serta 35 data center.

Darmadi menilai, besarnya aset dan infrastruktur tersebut perlu diimbangi dengan pertumbuhan kinerja yang lebih kuat. Menurutnya, transformasi perusahaan memang telah menunjukkan kemajuan melalui berbagai langkah restrukturisasi, tetapi hasilnya harus tercermin pada peningkatan profitabilitas.

Telkom tercatat telah melakukan dua divestasi, dua merger, serta menutup delapan lini bisnis. Selain itu, jumlah karyawan dalam satuan full-time equivalent (FTE) turun dari 20.357 menjadi 17.438 orang. Beban personel juga menyusut dari Rp9,5 triliun menjadi Rp7,7 triliun.

“Artinya restrukturisasi sudah berjalan. Efisiensi sudah berjalan. Konsolidasi juga sudah berjalan. Tetapi pertanyaannya, setelah semua itu dilakukan, di mana mesin pertumbuhan laba yang baru?” tegasnya.

Darmadi turut menyoroti struktur pendapatan Telkom yang masih didominasi segmen business-to-consumer (B2C). Sekitar 72 persen pendapatan eksternal perusahaan atau Rp54,7 triliun berasal dari segmen tersebut, yang menunjukkan kuatnya ketergantungan perusahaan terhadap bisnis konsumen.

Sementara itu, segmen business-to-business information and communication technology (B2B ICT) yang diharapkan menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru justru mengalami penurunan hasil segmen dari Rp1,384 triliun menjadi Rp678 miliar, atau sekitar 51 persen.

“Kalau kita bicara transformasi digital dan B2B sebagai mesin pertumbuhan baru, tentu kita perlu melihat kenapa hasil segmen B2B ICT justru turun 51 persen. Jangan hanya melihat pendapatannya, tetapi juga harus melihat kemampuan bisnis tersebut menghasilkan keuntungan,” jelas Darmadi.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius karena Telkom masih menggelontorkan investasi dalam jumlah besar untuk memperkuat bisnis dan infrastrukturnya.

Pada Semester I 2026, belanja modal atau capital expenditure (Capex) Telkom mencapai Rp10,8 triliun. Sementara itu, transaksi InfraNexia mencapai Rp35,8 triliun pada fase pertama dan Rp49,9 triliun pada fase kedua. Lebih dari 90 persen aset jaringan Telkom berada di InfraNexia.

“Investasi besar harus menghasilkan produktivitas yang besar. Karena itu kita ingin melihat setelah restrukturisasi aset, konsolidasi bisnis, dan investasi triliunan rupiah, kapan dampaknya terhadap pertumbuhan laba akan semakin terlihat?” kata Darmadi.

Darmadi menegaskan, Komisi VI DPR RI mendorong Direktur Utama Telkom yang baru agar tidak hanya berfokus pada penataan struktur perusahaan dan aset. Lebih dari itu, pimpinan baru Telkom harus mampu menciptakan sumber pertumbuhan yang dapat mendorong peningkatan laba secara berkelanjutan.

“Restrukturisasi bukan garis finish. Konsolidasi bukan garis finish. Efisiensi juga bukan garis finish. Yang kita tunggu adalah pertumbuhan.”

Ia mendorong Telkom memperkuat bisnis B2B ICT, mengoptimalkan potensi data center, mengembangkan bisnis berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta memastikan infrastruktur digital yang dimiliki mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.

Menurut Darmadi, keberhasilan transformasi perusahaan tidak cukup diukur dari perubahan struktur organisasi, efisiensi biaya, maupun konsolidasi aset. Transformasi harus menghasilkan pertumbuhan bisnis yang nyata dan memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional.

“Telkom sudah menjadi raksasa. Sekarang tantangannya adalah bagaimana raksasa ini tumbuh lebih besar, lebih produktif, dan memberikan nilai yang semakin besar bagi perekonomian serta masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

Quote