Ikuti Kami

Darurat Kesehatan Mental Remaja Jatim: Saifudin Zuhri Desak Pengadaan Hotline 24 Jam

Hal ini akan maraknya kasus bunuh diri di kalangan remaja Jawa Timur—termasuk tragedi memilukan di kawasan Cangar.

Darurat Kesehatan Mental Remaja Jatim: Saifudin Zuhri Desak Pengadaan Hotline 24 Jam
Anggota Komisi A DPRD Jatim, Saifudin Zuhri.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi A DPRD Jatim, Saifudin Zuhri, mendesak pemerintah provinsi untuk segera memperkuat akses layanan kesehatan mental yang lebih inklusif dan responsif.

Hal ini akan maraknya kasus bunuh diri di kalangan remaja Jawa Timur—termasuk tragedi memilukan di kawasan Cangar.

Saifudin menegaskan bahwa langkah konkret yang tidak bisa ditunda lagi adalah penyediaan layanan hotline kesehatan mental 24 jam. Menurutnya, ketiadaan ruang aman untuk bercerita menjadi faktor krusial yang memperburuk kondisi psikologis remaja.

Baca: Ganjar Membuktikan Dirinya Sebagai Sosok Yang Inklusif

"Remaja yang mengalami tekanan sering kali tidak punya ruang untuk bercerita, bahkan kepada keluarga sendiri. Karena itu, perlu ada hotline yang bisa diakses kapan saja sebagai langkah awal intervensi sebelum kondisi memburuk," ujar Saifudin, Selasa (28/4).

Bagi legislator yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Batu ini, persoalan kesehatan mental bukan sekadar masalah klinis, melainkan masalah aksesibilitas. Ia mendorong agar setiap Puskesmas dan lembaga pendidikan wajib memiliki tenaga konselor yang kompeten.

Ia menekankan bahwa layanan kesehatan mental seharusnya sudah menjadi bagian dari standar pelayanan dasar bagi masyarakat.

- Aksesibilitas: Masyarakat harus tahu ke mana mereka harus melapor.

- Kesiapan Medis: Puskesmas harus siap dengan layanan konseling profesional.

- Keberlanjutan: Kebijakan tidak boleh hanya bersifat reaktif saat ada kasus yang viral.

Baca: Strategi Ganjar Pranowo untuk Hubungkan Langsung Dunia

Selain faktor fasilitas, Saifudin menyoroti pengaruh destruktif media sosial yang kerap menormalisasi tindakan berbahaya. Ia meminta adanya sinergi antara sekolah dan keluarga untuk menciptakan ekosistem pendukung yang suportif bagi remaja.

"Regulasi harus dijalankan secara nyata dan konsisten, bukan hanya muncul sesaat saat ada kasus viral. Implementasi kebijakan yang berkelanjutan adalah kunci pencegahan yang efektif," pungkasnya tegas.

Quote