Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi V DPR RI Dapil Jambi, Edi Purwanto, mengungkapkan Desa Tanjung Kasri di Kabupaten Merangin, Jambi, telah berhasil mewujudkan kemandirian energi dengan memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebagai sumber utama listrik.
Sedangkan desa yang berada di kawasan Jangkat bagian ujung barat Jambi tersebut telah 15 tahun tidak teraliri listrik dari PLN.
Menurut Edi Purwanto, Tanjung Kasri memanfaatkan aliran Sungai Nyabu yang deras dan asri untuk menghasilkan energi listrik.
“Desa ini sudah selama 15 tahun terakhir memanfaatkan aliran energi listrik ke rumah-rumah mereka menggunakan Sungai Nyabu. Sungai itu dimanfaatkan buat sumber energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang beroperasi 24 jam tanpa kendala padam listrik,” ujarnya, dikutip Selasa (24/2/2026).
Sebenarnya, lanjut Edi Purwanto yang juga Politisi PDI Perjuangan Jambi itu, ia terkejut dengan kondisi desa yang tidak teraliri listrik dari PLN. Namun, setelah menelusuri lebih lanjut, ia menemukan warga justru merasa lebih terbantu dengan aliran listrik dari PLTMH.
“Bayangkan saja, warga di sana hanya dikenakan biaya sekitar Rp 100 ribu per bulan dengan menggunakan metode itu. Namun aliran listrik mereka juga tidak pernah padam dan terus menyala, ini kan bagian dari inovasi yang seharusnya menjadi contoh nasional,” kata Edi.
Ia menambahkan penggunaan PLTMH sebagai sumber energi listrik bagi warga desa tersebut patut didukung oleh pemerintah.
“Saya sudah mengajak agar Menteri Desa turun langsung meninjau Desa Tanjung Kasri ini. Pak Menteri Desa mestinya melihat langsung potensi dan keberhasilan inovasi warga Desa Tanjung Kasri ini. Apalagi model PLTMH ini layak direplikasi ke desa-desa lain di Indonesia, terutama wilayah yang masih kesulitan akses listrik,” terang Edi.
Menurutnya, jika model PLTMH ini diadopsi oleh desa lain, masalah listrik desa dapat teratasi lebih cepat. “Apalagi terbukti selama 15 tahun ini listrik di Tanjung Kasri lebih stabil daripada yang disuplai PLN,” sambungnya.
Sebelum menggunakan PLTMH, warga Desa Tanjung Kasri sempat memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Namun, karena kurang stabil, warga kemudian membangun PLTMH pada tahun 2019 dengan menggunakan dana desa sebesar Rp 570 juta. Investasi ini dinilai memberikan manfaat besar bagi ratusan warga desa.
Pada tahun 2023, PLN mulai menjangkau desa-desa di sekitar Tanjung Kasri. Meskipun demikian, warga menolak tawaran pemasangan listrik dari PLN karena biaya yang dinilai mahal dan tidak terjangkau.
Edi Purwanto mengakui bahwa inovasi PLTMH ini juga memiliki kendala, terutama biaya perawatan yang cukup mahal. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya dukungan penuh dari pemerintah pusat terhadap inovasi seperti ini.
“Harusnya Pemerintah pusat membantu mendorong inovasi seperti ini mendapat perhatian sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian energi desa,” tegas Edi.
Edi Purwanto telah menyampaikan permasalahan ini dalam rapat kerja Komisi V DPR RI bersama Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Ia berharap pemerintah dapat menyelesaikan kendala yang dihadapi warga terkait PLTMH, terutama kebutuhan revitalisasi agar PLTMH dapat beroperasi lebih maksimal.
“Desa ini sudah mampu mandiri energi, listrik stabil, dan dikelola oleh BUMDes dan ini harus didukung penuh pemerintah pusat. Sementara di banyak desa yang pakai aliran listrik dari PLN juga masih hidup-mati,” kata Edi.
Listrik dari PLTMH juga dimanfaatkan untuk mendukung usaha kecil warga dari sektor pertanian. Keberadaan listrik mandiri ini diharapkan dapat menggerakkan roda perekonomian desa.
“Dengan adanya PLTMH ini tentunya juga sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan di daerah tertinggal. Harusnya ini jadi langkah baik buat pemerintah mendukung inovasi baik yang masih menggunakan alam dan alam tetap terjaga, dan mestinya pula secepatnya revitalisasi itu dilakukan,” pungkas Edi.

















































































