Ikuti Kami

Duka di Ngada: MY Esti Tegaskan Negara Wajib Jamin Hak Pendidikan

Siswa tersebut diduga mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pena.

Duka di Ngada: MY Esti Tegaskan Negara Wajib Jamin Hak Pendidikan
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati.

Jakarta, Gesuri.id -  Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati, menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Siswa tersebut diduga mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pena.

Esti menegaskan bahwa tragedi ini merupakan pukulan keras bagi kemanusiaan sekaligus tamparan bagi dunia pendidikan Indonesia.

Baca: Ganjar Pranowo Tak Ambil Pusing Elektabilitas Ditempel Ketat

“Ini adalah tamparan keras bagi kita semua. Seorang anak SD kehilangan nyawa bukan karena perang atau bencana, melainkan karena tidak mampu membeli alat tulis. Ini tidak dapat diterima di negara yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dan pendidikan,” tegas Esti dalam keterangan tertulisnya, Selasa (3/2).

Politisi PDI Perjuangan ini mengingatkan bahwa Pasal 31 ayat (1) dan (2) UUD NRI 1945 secara eksplisit mewajibkan pemerintah membiayai pendidikan dasar bagi setiap warga negara. Menurutnya, tanggung jawab pembiayaan kebutuhan sekolah berada di pundak negara, bukan keluarga kurang mampu.

Esti juga menyinggung Putusan MK Nomor 3/PUU-XXII/2024 yang mengamanatkan pendidikan dasar bebas dari pungutan dalam bentuk apa pun.

“Putusan MK harus menjadi pedoman. Ke depan, tidak boleh ada lagi pungutan langsung maupun terselubung. Sekolah harus menjadi ruang aman, bukan tempat yang menakutkan karena tekanan biaya,” ujarnya.

Meskipun pemerintah telah menyediakan Program Indonesia Pintar (PIP), Esti menilai implementasinya masih perlu dievaluasi agar benar-benar tepat sasaran. Ia mendorong perluasan cakupan bantuan agar menjangkau anak-anak di daerah pelosok yang sering kali terlewat secara administratif.

Selain itu, ia menggarisbawahi Pasal 34 ayat (1) UUD NRI 1945 yang menyatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara.

Baca: Ganjar Pranowo Tekankan Pentingnya Kritik

“Pemerintah harus hadir secara nyata. Jangan sampai ada lagi anak yang putus asa karena alat tulis. Pendidikan seharusnya membebaskan, bukan menekan hingga merenggut nyawa,” kata Esti.

Esti berharap tragedi di Ngada menjadi titik balik bagi pemerintah pusat dan daerah untuk mengevaluasi pemerataan akses pendidikan. Ia menekankan bahwa tidak boleh ada satu pun anak Indonesia yang tertinggal atau kehilangan masa depan karena kemiskinan.

“Setiap anak adalah aset bangsa. Tugas kita adalah memastikan mereka bisa bermimpi tanpa beban biaya yang seharusnya ditanggung negara,” pungkasnya.

Quote