Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, menilai peringatan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenai potensi terjadinya Perang Dunia Ketiga harus disikapi secara serius oleh seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun parlemen.
TB Hasanuddin menyebutkan secara realistis Indonesia tidak memiliki kapasitas untuk mencegah perang dunia secara sendirian, terlebih konflik berskala global.
Meski demikian, Indonesia tetap mempunyai ruang dan peran strategis untuk berkontribusi melalui diplomasi dan upaya perdamaian internasional.
“Indonesia memiliki posisi moral dan politik yang kuat sebagai negara nonblok dan pengusung perdamaian dunia. Peran ini harus terus dioptimalkan,” ujar TB Hasanuddin, dikutip Kamis (22/1).
Ia mendorong Kementerian Luar Negeri untuk mengaktifkan secara maksimal seluruh jaringan diplomatik Indonesia di berbagai forum internasional.
Menurutnya, para diplomat Indonesia, khususnya yang bertugas di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perlu lebih proaktif dalam membangun atmosfer perdamaian, mendorong dialog, serta mengupayakan deeskalasi konflik global.
Selain itu, TB Hasanuddin menekankan pentingnya peran perwakilan diplomatik Indonesia di berbagai negara untuk melakukan pendekatan serupa dengan menyesuaikan kondisi dan dinamika politik di masing-masing negara penugasan.
Ia juga menilai bahwa upaya perdamaian tidak hanya dapat dilakukan melalui jalur resmi negara. Peran organisasi masyarakat sipil dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang perdamaian perlu kembali dihidupkan dan dilibatkan secara aktif.
TB Hasanuddin mencontohkan gerakan seperti Gong Perdamaian yang selama ini membawa pesan simbolik dan moral mengenai pentingnya persatuan serta perdamaian dunia.
“Upaya perdamaian tidak cukup hanya melalui pemerintah. Partisipasi masyarakat sipil dan gerakan perdamaian juga harus diperkuat,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa diplomasi parlemen juga memiliki kontribusi penting dalam menjaga stabilitas global. Menurutnya, parlemen Indonesia dapat membangun komunikasi dan kerja sama dengan parlemen negara lain untuk mendorong dialog, membangun kepercayaan, serta memperkuat komitmen bersama terhadap perdamaian dunia.
“Diplomasi antar parlemen adalah jalur penting yang sering luput diperhatikan, padahal potensinya besar untuk meredam ketegangan antarnegara,” tegasnya.
TB Hasanuddin berharap seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah, parlemen, diplomat, hingga masyarakat sipil, dapat bersinergi memperkuat peran Indonesia sebagai jembatan perdamaian dunia di tengah meningkatnya ketegangan dan konflik global.
Sebelumnya, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan semua pihak, baik di dalam maupun luar negeri, bahwa tanda-tanda menuju Perang Dunia Ketiga mulai terlihat.
“Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit,” kata SBY dalam sebuah cuitan di akun X miliknya @SBYudhoyono, Senin (19/1/2026).

















































































