Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VIII DPR RI, Ketut Kariyasa Adnyana menilai intensitas bencana hidrometeorologi dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat, sehingga kewaspadaan dan kesiapsiagaan harus semakin diperkuat.
Hal ini menanggapi bencana banjir yang kembali terjadi di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali.
“Bencana di tahun 2025 ini kapasitasnya makin tinggi terus. Tentu kita harus makin waspada,” ujar Kariyasa saat ditemui di kawasan Danau Buyan, Jumat (23/1).
Baca: Ganjar Pranowo Tegaskan PDI Perjuangan Tak Bisa Didikte
Ia menjelaskan, Komisi VIII DPR RI memiliki kemitraan langsung dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Kementerian Sosial. Koordinasi terus dilakukan agar setiap terjadi bencana, penanganan dapat segera dilaksanakan.
“Kami di Komisi VIII selalu berkoordinasi dengan BNPB dan Kementerian Sosial, supaya saat bencana terjadi, penanganan bisa cepat dilakukan,” katanya.
Terkait banjir di Pancasari, Ketut Kariyasa menyebut peristiwa tersebut bukan kejadian baru.
Bahkan, sejak dirinya masih duduk sebagai anggota DPRD Bali, wilayah tersebut sudah kerap terdampak banjir.
Saat itu, sempat dilakukan perbaikan sistem drainase yang mampu meredam banjir untuk sementara waktu.
Menurutnya, kondisi tersebut harus dikaji lebih mendalam untuk mengetahui penyebab utama banjir.
Namun secara kasat mata, ia menduga alih vegetasi di kawasan hulu menjadi salah satu faktor utama pemicu banjir.
“Kini banyak terjadi alih vegetasi. Di hulu yang semestinya ditanami tanaman keras, sekarang beralih ke tanaman sayur dan bunga yang tidak bisa menahan air. Akibatnya, sedimentasi cepat turun dan memicu banjir,” jelasnya.
Kariyasa menegaskan, kawasan hulu idealnya tidak boleh mengalami alih fungsi, baik alih fungsi lahan maupun alih vegetasi. Hal tersebut sejalan dengan aturan tata ruang yang pernah dibahas saat dirinya terlibat dalam panitia khusus tata ruang di tingkat provinsi.
“Saya ingat waktu jadi pansus tata ruang, kawasan hulu itu tidak boleh dialihfungsikan. Jangankan jadi bangunan, alih vegetasi saja tidak boleh. Kalau tanaman keras diganti bunga, itu sudah melanggar. Kalau hujan di puncak, otomatis banjir akan terjadi,” tegasnya.
Selain alih fungsi, kondisi itu diperparah dengan kondisi geografis Pancasari. Kariyasa menyebut air limpahan dari berbagai wilayah di dataran tinggi, berujung ke Pancasari, khususnya Danau Buyan.
"Posisi desanya memang lebih rendah dari perbukitan. Termasuk lebih rendah dari desa tetangga (Kembang Merta). Makanya sering tergenang. Ini memang harus dicarikan solusi konkret," katanya.
Baca: Ganjar Minta Parpol Pendukung Wacana Kepala Daerah Dipilih
Selain mendorong kajian penyebab banjir secara lebih detail, ia juga menekankan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.
Ia menegaskan, upaya mitigasi harus menjadi prioritas utama agar bencana tidak menimbulkan korban jiwa di kemudian hari.
“Kami mendorong mitigasi yang serius. Jangan sampai bencana ini menimbulkan korban jiwa,” pungkasnya.

















































































