Jakarta, Gesuri.id — Komisi C DPRD DKI Jakarta bersama pengelola Taman Margasatwa Ragunan (TMR) menyepakati rencana penyesuaian tarif masuk kawasan wisata edukasi tersebut.
Langkah ini diambil untuk membenahi sarana-prasarana serta merintis kemandirian finansial pengelola Ragunan.
Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, menegaskan bahwa penyesuaian tarif sangat mendesak demi membenahi berbagai aspek vital yang selama ini terkendala anggaran. Salah satu prioritas utama adalah evaluasi dan peningkatan standar keamanan kandang satwa.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
"Beberapa waktu lalu ada anak yang terjatuh ke area kandang gajah. Ini menjadi catatan serius kami. Kami berharap standar keamanan kandang bisa ditingkatkan seiring dengan penyesuaian tarif agar kejadian serupa tidak terulang," ujar Kenneth saat melakukan inspeksi lapangan, Jumat (4/9).
Pria yang akrab disapa Bang Kent itu menambahkan, efisiensi pendapatan dari tiket masuk juga penting untuk mengurangi ketergantungan Ragunan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta, yang saat ini masih membiayai hingga 70 persen operasional.
"Harapan kami, penyesuaian tarif ini membuat Ragunan mandiri secara finansial sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Efisiensi APBD nantinya bisa dialokasikan untuk program lain yang lebih membutuhkan," kata alumni PPRA Lemhannas RI Angkatan LXII tersebut.
Dalam inspeksi tersebut, politikus PDI Perjuangan ini juga membeberkan sejumlah catatan evaluasi kritis terkait alokasi penambahan pendapatan Ragunan ke depan, antara lain:
Perbaikan Fasilitas Dasar: Memprioritaskan kebersihan toilet, sanitasi kawasan, serta kesejahteraan pegawai dan petugas teknis lapangan.
Program Pemuliaan Satwa: Mengingat kondisi kesehatan dan keberlangsungan satwa harus tetap prima.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
"Untuk satwa besar seperti gorila jantan yang belum memiliki pasangan, kami dorong skema pertukaran antar-kebun binatang agar bisa mendapatkan gorila betina dan berkembang biak secara layak," papar Kenneth.
Rasio Dokter Hewan yang Tak Seimbang: Kenneth menyoroti ketimpangan jumlah tenaga medis hewan yang ada saat ini.
"Ada lebih dari 2.200 ekor satwa di Ragunan, tetapi dokter hewannya hanya 8 orang. Ini sangat timpang. Jika tarif disesuaikan dan penambahan pemasukan terealisasi, perekrutan dokter hewan wajib jadi prioritas utama," tegasnya.

















































































