Ikuti Kami

KM Virgo Transport 8 Terbalik di Laut Jawa, Edi Purwanto: Cek Kelayakan Kapal Usia 39 Tahun Itu

Kapal yang mengangkut 243 orang dan 54 kendaraan itu telah berusia sekitar 39 tahun dan sebelumnya beroperasi di Jepang.

KM Virgo Transport 8 Terbalik di Laut Jawa, Edi Purwanto: Cek Kelayakan Kapal Usia 39 Tahun Itu
Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Edi Purwanto.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Edi Purwanto, menyoroti kelayakan KM Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Sorotan tersebut mencuat setelah diketahui kapal yang mengangkut 243 orang dan 54 kendaraan itu telah berusia sekitar 39 tahun dan sebelumnya beroperasi di Jepang.

“Ini perlu dicek bagaimana kok ada kapal usia 39 tahun untuk kebutuhan penumpang masuk ke Indonesia,” kata Edy dalam wawancara yang dikutip dari Kompas TV, Senin (14/9/2026).

Edi mengatakan, kondisi kapal yang telah berusia puluhan tahun tersebut perlu ditelusuri lebih jauh, termasuk bagaimana kapal tersebut dapat masuk dan digunakan untuk mengangkut penumpang di Indonesia.

Menurut Edi, kecelakaan kapal tidak boleh hanya dilihat dari satu faktor, seperti cuaca buruk atau kelebihan muatan. Pemeriksaan harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, mulai dari administrasi, pemeriksaan kelaikan, perizinan, kondisi kapal, hingga penerapan prosedur keselamatan.

Ia juga menyoroti berulangnya kecelakaan kapal di Indonesia. Berdasarkan data yang disampaikannya, sepanjang Januari hingga 15 Agustus 2026 tercatat sekitar 600 kejadian kecelakaan kapal, dengan 239 korban meninggal dunia dan 203 orang hilang.

“Menurut saya kita harus melakukan audit menyeluruh,” tegas Edi.

Menurutnya, audit tersebut harus mencakup seluruh komponen yang berkaitan dengan keselamatan pelayaran. Hal itu tidak hanya untuk mencari penyebab kecelakaan setelah kejadian, tetapi juga memastikan hasil investigasi benar-benar menghasilkan perbaikan agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.

Edi juga menyoroti sejumlah aspek yang perlu diperiksa, mulai dari kemungkinan persoalan muatan, penataan kendaraan, sumber daya manusia, komunikasi informasi cuaca, hingga kesiapan sistem tanggap darurat.

“Apakah kapal itu benar-benar laik ketika diberangkatkan? Apakah muatan ditata dengan benar? Apakah informasi cuaca sampai kepada pihak yang membutuhkan? Apakah keputusan selama pelayaran sudah tepat? Apakah sistem komunikasi dan tanggap darurat bekerja dengan baik?” ujarnya.

Sementara itu, pengamat maritim Marcelus Hakeng Jayawibawa menilai aspek desain dan peruntukan kapal juga perlu menjadi perhatian dalam evaluasi kecelakaan Virgo Transport 8.

Menurut dia, kapal yang dibuat untuk karakteristik pelayaran tertentu tidak bisa begitu saja diasumsikan cocok untuk seluruh kondisi perairan Indonesia. Karena itu, kebijakan penggunaan kapal impor, khususnya kapal penumpang, perlu ditinjau kembali karena menyangkut keselamatan manusia.

“Yang dibawa adalah nyawa manusia, bukan lagi kargo yang apabila hilang kita tinggal menghitung kerugiannya,” ujarnya.

Hakeng bahkan mendorong agar kapal-kapal impor yang dinilai tidak sesuai dengan karakteristik pelayaran Indonesia dihentikan sementara operasionalnya untuk dilakukan evaluasi dan kajian ulang.

“Kita harus berani mengatakan stop dulu, kita review dulu, kita kaji ulang dulu,” katanya.

Kecelakaan KM Virgo Transport 8 terjadi saat kapal berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin di tengah kondisi cuaca buruk dan gelombang tinggi. Kapal tersebut dilaporkan mengangkut 243 orang dan 54 kendaraan.

Hingga Senin (14/9/2026) pagi, proses pencarian dan evakuasi masih dilakukan oleh Basarnas terhadap korban yang belum ditemukan.

Di tengah proses pencarian yang masih berlangsung, tragedi Virgo Transport 8 kembali membuka pertanyaan mengenai ketatnya pengawasan keselamatan kapal penumpang di Indonesia.

Bagi DPR, persoalan tersebut bukan sekadar mencari pihak yang bertanggung jawab setelah kecelakaan terjadi. Hal yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap kapal yang membawa ratusan penumpang benar-benar laik berlayar sebelum meninggalkan pelabuhan.

Quote