Ikuti Kami

Kritisi Klaim Stabilitas Rupiah, DPR Pertanyakan Kinerja Bank Indonesia

Interupsi tersebut dilayangkan setelah Perry menyebut nilai tukar rupiah saat ini tetap terjaga stabil.

Kritisi Klaim Stabilitas Rupiah, DPR Pertanyakan Kinerja Bank Indonesia
Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Dolfie Othniel Frederic Palit.

Jakarta, Gesuriid. — Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Dolfie Othniel Frederic Palit, menginterupsi Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, dalam rapat kerja yang digelar pada Senin (18/5). 

Interupsi tersebut dilayangkan setelah Perry menyebut nilai tukar rupiah saat ini tetap terjaga stabil.

Dolfie mempertanyakan indikator stabilitas yang digunakan oleh BI. Menurutnya, bank sentral perlu memperjelas landasan dalam menentukan rentang gejolak nilai tukar.

Baca: Ini Deretan Program Ganjar Pranowo Yang Berhasil Tekan Angka

"Interupsi, Ketua. Gini, Pak, menerjemahkan stabilitas ini. Tadi kan Bapak bilang stabilitas bukan pada level, tapi pada gejolaknya tadi 5,4 persen. Nah, menetapkan bahwa dalam rentang 5,4 persen itu stabil, apa landasannya?" ujar Dolfie.

Lebih lanjut, politisi dari Fraksi PDI Perjuangan ini mengkritisi data historis yang disajikan oleh Gubernur BI. Berdasarkan data tersebut, Dolfie menilai pergerakan nilai tukar rupiah hampir selalu berada di bawah nilai fundamental (undervalued) ekonomi yang berkeadilan.

"Kalau kita lihat riwayatnya dari 2014 sampai 2025, rupiah tidak pernah berada dalam situasi fundamental ekonomi rupiah yang pas. Saya tidak tahu apakah memang BI sengaja menciptakan undervalue, overvalued, atau tidak. Karena kalau kita lihat datanya, tidak pernah (menyentuh nilai fundamental), kecuali pada 2019 dan 2022," tutur Dolfie.

Ia bahkan menyindir bahwa BI justru baru bisa mengendalikan nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya ketika aktivitas ekonomi sedang mandek akibat pandemi.

Baca: Ganjar Pranowo Tak Ambil Pusing Elektabilitas Ditempel Ketat

"Tahun 2022 ketika Covid, saat ekonomi tidak bergerak, baru BI bisa mengelola (manage) rupiah sesuai dengan nilai fundamental ekonominya. Namun, ketika ekonomi bergerak, BI tidak bisa membuat nilai rupiah sesuai dengan nilai fundamental ekonominya," tegasnya.

Di akhir interupsinya, Dolfie menuntut penjelasan konkret dan transparansi anggaran dari pihak Bank Indonesia mengenai upaya-upaya intervensi pasar yang telah dilakukan selama ini.

"Dari pembelajaran tahun 2025 ketika nilai tukar rupiah tidak sesuai dengan nilai fundamentalnya, apa saja yang sudah dilakukan BI? Berapa biaya yang dibutuhkan agar rupiah bisa berada di nilai fundamentalnya? Dan kenapa hal tersebut tidak bisa terjadi? Saya rasa itu yang perlu untuk dipaparkan saat ini," pungkas Dolfie.

Quote