Jakarta, Gesuri.id — Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa arah pembangunan Pulau Dewata harus diletakkan dalam kerangka jangka panjang melalui konsepsi 100 Tahun Bali.
Pendekatan ini menempatkan kebudayaan, keseimbangan ekologis, dan kekuatan spiritualitas sebagai fondasi utama, bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi dan fisik semata.
Perspektif tersebut, menurut Hasto, menjadi landasan sikap Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, dalam merespons rencana pembangunan Bandara Internasional Bali Utara. Megawati menilai rencana megah tersebut menyimpan berbagai risiko jangka panjang yang perlu diperhitungkan secara matang.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
"Bencana yang terjadi di Nepal dan kebakaran hutan di mana-mana saat ini adalah cermin kerusakan lingkungan yang luar biasa. Ini tidak boleh terjadi di Bali," ujar Hasto, Senin (31/8).
Ia menekankan bahwa Bali merupakan satu kesatuan ekosistem utuh yang menuntut kebijakan tata ruang yang ketat. Alih-alih mendirikan bandara baru, Hasto menilai persoalan kesenjangan pembangunan dan konektivitas wilayah dapat diselesaikan secara teknokratis—seperti memperkuat jalur logistik laut keliling pulau serta membangun jaringan kereta api penghubung Denpasar dan Singaraja.
"Oleh sebab itu, usulan pembangunan Bandara Bali Utara sangat tidak tepat dan dikhawatirkan hanya akan mempercepat eksploitasi Bali," tegasnya.
Lebih lanjut, Hasto mengingatkan bahwa wacana proyek tersebut bahkan telah memicu gelombang spekulasi tanah secara masif di tingkat akar rumput pada tahap perencanaan awal.
Kondisi ini dinilai sebagai indikasi kuat dominasi kepentingan oligarki.
Bagi masyarakat Bali, tanah memiliki makna transenden yang melampaui sekadar komoditas ekonomi. Tanah menyimpan sejarah keluarga, tradisi, kawasan pertanian, pura, hingga hubungan spiritual dengan alam.
"Jangan sampai rakyat Bali kehilangan tanahnya dan pada akhirnya hanya menjadi penonton di tanah kelahiran sendiri, terlebih apabila pembangunan itu digerakkan oleh kepentingan pemodal besar dan investasi asing," ucap Hasto.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
Pembangunan bandara internasional lazimnya memicu efek domino berupa pembangunan kawasan komersial, perhotelan, properti, hingga infrastruktur pariwisata masif. Tanpa pengendalian yang ketat, Hasto memperingatkan bahwa hal tersebut akan melipatgandakan tekanan terhadap sumber daya air, lingkungan hidup, serta struktur sosial-budaya masyarakat setempat.
Sebagai solusi alternatif untuk menggerakkan perekonomian Bali Utara tanpa merusak bentang alam dan ekologinya, PDI Perjuangan mendorong penguatan koridor ekonomi Surabaya–Banyuwangi–Bali, termasuk peningkatan aksesibilitas internal yang ramah lingkungan.
"Memperkuat interkoneksi wilayah ini merupakan pilihan yang progresif. Bali Utara harus berkembang, tetapi harus bertumpu pada karakter, kebutuhan rakyat, serta daya dukung alamnya," pungkas Hasto.

















































































