Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi II DPR RI Deddy Sitorus mendorong pendidikan politik dan sosialisasi pemilu kepada masyarakat terus dilakukan secara berkelanjutan meski pelaksanaan pemilu berikutnya masih cukup jauh.
“Pemilu masih lama. Tapi kita harus terus mengingatkan pemilih betapa pentingnya pemilu itu,” ujar Deddy dalam kegiatan Sosialisasi Pendidikan Pemilu Berkelanjutan yang digelar di Sayn Cafe, Nunukan, Kalimantan Utara, dikutip Rabu (19/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti puluhan peserta dan turut dihadiri anggota KPU Kalimantan Utara, Nasaruddin. Menurut Deddy, masyarakat perlu terus diingatkan bahwa setiap suara memiliki konsekuensi terhadap arah pemerintahan dan kebijakan negara.
Politikus PDI Perjuangan itu mengatakan kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh kualitas pilihan masyarakat ketika berada di bilik suara. Karena itu, pemilih diharapkan tidak menjadikan kepentingan pragmatis, termasuk imbalan materi, sebagai dasar utama dalam menentukan pilihan politik.
Deddy mengaku khawatir apabila produk politik yang dihasilkan melalui pemilu lebih banyak ditentukan oleh pemilih pragmatis. Menurutnya, kondisi tersebut pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap kualitas pemimpin serta kebijakan yang dihasilkan setelah pemilu.
“Apa pun kondisi negara hari ini adalah hasil pemilu yang kita semua menjadi penentu. Kalau kita memilih berdasarkan uang yang diberikan tanpa mempertimbangkan kualitas, jangan pernah kecewa. Itulah pilihan kita. Silakan menikmati,” tegasnya.
Ia menilai pemilu tidak sekadar menjadi momentum untuk memilih calon anggota legislatif maupun pasangan calon pada pemilihan presiden. Lebih dari itu, pemilu merupakan instrumen bagi masyarakat untuk menentukan arah pembangunan dan masa depan bangsa.
Karena itu, pendidikan pemilu dinilai perlu dilakukan jauh sebelum tahapan pemilu berlangsung. Masyarakat harus memiliki waktu yang cukup untuk memahami hak dan kewajibannya sebagai pemilih, menilai rekam jejak peserta pemilu, serta menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan yang rasional.
Sebagai mitra kerja KPU, Deddy mengatakan Komisi II DPR RI terus mendorong penyelenggara pemilu meningkatkan sosialisasi dan pendidikan politik kepada masyarakat. Menurutnya, sosialisasi tidak seharusnya hanya dilakukan menjelang hari pemungutan suara, tetapi menjadi proses yang berlangsung secara berkesinambungan.
“Mumpung pemilu masih jauh. Rakyat harus terus diingatkan betapa penting suara itu untuk menentukan masa depan bangsa,” katanya.
Deddy juga menilai masyarakat di daerah perbatasan seperti Kabupaten Nunukan memiliki posisi penting dalam kehidupan demokrasi nasional. Selain sebagai pemilih, masyarakat memiliki peran dalam menjaga kualitas proses demokrasi agar berlangsung secara jujur, rasional, dan bertanggung jawab.
Ia berharap masyarakat tidak hanya datang ke tempat pemungutan suara untuk memenuhi kewajiban sebagai pemilih, tetapi juga memahami alasan di balik pilihan politik yang diambil. Dengan demikian, suara yang diberikan benar-benar menjadi representasi aspirasi masyarakat.
Pendidikan pemilu berkelanjutan juga dinilai penting untuk mencegah berkembangnya politik transaksional. Pemilih diharapkan tidak mudah terpengaruh pemberian uang atau materi sesaat yang dapat mengabaikan kepentingan jangka panjang.
“Suara rakyat menentukan masa depan bangsa. Karena itu, jangan sampai pilihan politik ditentukan hanya karena kepentingan sesaat,” pungkas Deddy.
Dengan sosialisasi yang dilakukan lebih awal dan berkelanjutan, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa pemilu bukan sekadar agenda lima tahunan, melainkan mekanisme utama bagi rakyat untuk menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara.

















































































