Ikuti Kami

Penyekapan Perempuan di Cileunyi, Angie Natesha Desak Pemulihan Trauma Korban Jadi Prioritas

Pemulihan total terhadap kondisi korban harus dikawal secara ketat.

Penyekapan Perempuan di Cileunyi, Angie Natesha Desak Pemulihan Trauma Korban Jadi Prioritas
Anggota DPRD Kabupaten Bandung, Angie Natesha Goenadi Go.

Bandung, Gesuri.id — Anggota DPRD Kabupaten Bandung, Angie Natesha Goenadi Go, mengapresiasi langkah cepat jajaran kepolisian Polda Jawa Barat yang berhasil meringkus Taufik Hidayat. 

Taufik merupakan pelaku kasus penyekapan dan penganiayaan berat terhadap seorang perempuan berinisial YTR (29) di Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.

​Meski penangkapan ini menjadi langkah krusial dalam penegakan hukum, Angie menegaskan bahwa fokus utama saat ini tidak boleh berhenti pada proses pidana pelaku saja. Pemulihan total terhadap kondisi korban harus dikawal secara ketat.

Baca: Ini 7 Fakta Unik & Menarik Tentang Ganjar Pranowo

​"Korban berhak mendapatkan keadilan, perlindungan, pendampingan hukum, layanan kesehatan, hingga pemulihan psikologis yang maksimal," ujar Angie, Kamis (25/6).

​Politisi PDI Perjuangan ini menilai, kasus yang sempat menyedot perhatian publik tersebut menjadi alarm keras bahwa kekerasan terhadap perempuan bukanlah urusan domestik atau persoalan pribadi semata. Ini adalah masalah kemanusiaan yang memerlukan solidaritas bersama.

​Angie menggarisbawahi bahwa selain menderita luka fisik yang serius akibat penyekapan, YTR berpotensi mengalami trauma psikologis mendalam (post-traumatic stress).

​"Luka fisik mungkin bisa diobati medis, tetapi trauma psikologis sering kali membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk pulih. Karena itu, korban wajib mendapatkan pendampingan psikologis yang berkelanjutan agar bisa kembali menata masa depannya," kata Angie.

​Kenyataan bahwa aksi penyekapan ini diduga berlangsung cukup lama di kawasan permukiman padat penduduk memicu keprihatinan Angie. Ia mengajak masyarakat untuk merefleksikan kembali tingkat kepekaan sosial di lingkungan sekitar.

​"Jangan sampai kita justru lebih mengenal kehidupan orang lain di media sosial dibandingkan dengan kondisi nyata tetangga sebelah rumah sendiri. Budaya saling peduli dan saling menjaga harus dihidupkan lagi agar potensi kekerasan bisa dideteksi dan dicegah sejak dini," tuturnya.

​Lebih lanjut, Angie memberikan dorongan moral kepada seluruh perempuan yang saat ini mungkin sedang terjebak dalam hubungan yang penuh tekanan, ancaman, atau intimidasi agar berani bersuara.

​Ia juga mengingatkan pentingnya menyadari tanda-tanda bahaya (red flags) dalam sebuah hubungan asmara maupun rumah tangga. Menurutnya, perempuan harus tegas mengambil keputusan untuk pergi jika pasangan sudah menunjukkan perilaku manipulatif, posesif, ataupun bermain fisik.

Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak

​"Jangan sampai dibutakan oleh perasaan cinta hingga mengabaikan keselamatan nyawa sendiri. Cinta yang sehat itu tidak melukai, tidak mengancam, dan tidak membuat kita hidup dalam ketakutan. Keselamatan dan harga diri adalah prioritas utama," tegas Angie.

​Bagi para korban yang membutuhkan pertolongan, Angie memastikan bahwa ruang advokasi selalu terbuka lebar. 

"Jangan takut untuk melapor dan mencari bantuan. Anda tidak sendirian. Kami siap mendampingi dan memperjuangkan hak-hak serta perlindungan Anda," pungkasnya.

Quote