Ikuti Kami

REPDEM Soroti Ironi Hari Pahlawan: Saat Penindas Diganjar Gelar Pahlawan

Wanto Sugito, menyebut keputusan itu mencederai semangat perjuangan rakyat yang justru menjadi korban di masa kekuasaan Soeharto.

REPDEM Soroti Ironi Hari Pahlawan: Saat Penindas Diganjar Gelar Pahlawan
Ketua Umum DPN Repdem, Wanto Sugito.

Jakarta, Gesuri.id - Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), sayap PDI Perjuangan, menilai momentum Hari Pahlawan tahun ini diwarnai ironi ketika pemerintah justru menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto.

Ketua Umum DPN Repdem, Wanto Sugito, menyebut keputusan itu mencederai semangat perjuangan rakyat yang justru menjadi korban di masa kekuasaan Soeharto.

Baca: Ganjar Ajak Kader Banteng NTB Selalu Introspeksi Diri

“Kita prihatin. Di saat bangsa ini memperingati jasa para pejuang yang melawan penindasan, negara malah memberi kehormatan kepada figur yang identik dengan pembungkaman dan pelanggaran hak-hak rakyat,” ujar Wanto, Senin (10/11).

Menurut Wanto, Hari Pahlawan seharusnya menjadi refleksi tentang keberanian melawan ketakutan dan ketidakadilan, bukan saat untuk menormalisasi sejarah kelam otoritarianisme. Ia menegaskan, semangat generasi 1998 yang menumbangkan rezim Orde Baru justru lahir dari nilai-nilai yang berlawanan dengan Soeharto.

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

“Jika hari ini Soeharto disebut pahlawan, bagaimana dengan Wiji Thukul, dan ribuan korban kekerasan negara? Apakah mereka tidak layak diingat?” tegasnya.

Repdem menyerukan agar pemerintah lebih bijak dalam memaknai kepahlawanan. Bagi mereka, pahlawan sejati adalah mereka yang berkorban untuk rakyat, bukan yang menindas rakyat.

“Repdem akan terus berdiri di sisi sejarah yang benar — di sisi rakyat yang berjuang untuk demokrasi, kebebasan, dan keadilan sosial,” tutup Wanto.

Quote