Ikuti Kami

Rokhmin Dahuri: Penerapan Teknologi, Penentu Wujudkan Kedaulatan Pangan & Menuju Negara Maju

Sejarah pembangunan di berbagai negara menunjukkan hubungan erat antara kemajuan teknologi dan peningkatan produktivitas.

Rokhmin Dahuri: Penerapan Teknologi, Penentu Wujudkan Kedaulatan Pangan & Menuju Negara Maju
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, mengatakan penerapan teknologi menjadi faktor penentu keberhasilan Indonesia dalam mewujudkan kedaulatan pangan sekaligus keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.

Hal tersebut ditegaskan Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, dalam program Jendela Negeri bertema Memperkuat Kedaulatan Pangan yang ditayangkan TVRI, pada Senin (19/1/2026).  

Rektor Universitas UMMI Bogor itu menekankan sejarah pembangunan di berbagai negara menunjukkan hubungan erat antara kemajuan teknologi dan peningkatan produktivitas. Menurutnya, tanpa inovasi, sektor pangan akan sulit berkembang secara berkelanjutan.  

“Sejarah bangsa-bangsa di dunia dan fakta empiris membuktikan bahwa maju mundurnya suatu usaha ditentukan oleh inovasi teknologi,” ujar Prof. Rokhmin, yang juga dikenal sebagai pakar kelautan dan perikanan.  

Ia menilai tantangan utama Indonesia saat ini terletak pada masih dominannya pola produksi tradisional. Lebih dari 80 persen usaha di sektor pertanian, perikanan, dan peternakan belum memanfaatkan teknologi secara optimal. Kondisi ini berdampak langsung pada rendahnya produktivitas dan pendapatan pelaku usaha pangan.  

“Malangnya, lebih dari 80 persen usaha di pertanian, perikanan, maupun peternakan masih dijalankan secara tradisional,” ungkap Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University tersebut.  

Ia menambahkan, jika Indonesia ingin keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah, maka transformasi teknologi di sektor pangan harus menjadi prioritas nasional. Penerapan teknologi modern, mulai dari mekanisasi pertanian, digitalisasi rantai pasok, hingga pemanfaatan bioteknologi, diyakini mampu meningkatkan efisiensi, kualitas, dan daya saing produk pangan Indonesia di pasar global.  

Selain itu, Prof. Rokhmin menekankan pentingnya dukungan kebijakan pemerintah, kolaborasi dengan perguruan tinggi, serta keterlibatan sektor swasta dalam mempercepat adopsi teknologi. “Kedaulatan pangan bukan sekadar soal swasembada, tetapi juga bagaimana kita mampu menguasai teknologi dan menjadikannya sebagai motor penggerak kesejahteraan rakyat,” tegasnya.  

Dengan dorongan inovasi dan penerapan teknologi, Rokhmin optimistis Indonesia dapat memperkuat kedaulatan pangan sekaligus membuka jalan menuju lompatan ekonomi yang lebih berkelanjutan.  

*Transformasi Teknologi Jadi Jalan Keluar*

Persoalan skala ekonomi dan keterbatasan teknologi masih menjadi penghambat utama bagi petani dan nelayan Indonesia untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. 

Berdasarkan kajian IPB dan FAO, skala ideal usaha tani padi berada pada kisaran dua hektare agar petani memperoleh pendapatan yang layak. Namun, realitas di lapangan menunjukkan rata-rata lahan garapan petani sawah di Jawa hanya sekitar 0,4 hektare. Kondisi ini membuat petani sulit meningkatkan produksi maupun pendapatan.  

“Dengan lahan garapan sawah yang sempit, siapapun bupati, gubernur, maupun presidennya, petani akan tetap berada dalam kondisi miskin,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004.  

Ia menekankan perlunya transformasi struktural melalui penguatan teknologi sekaligus pengembangan sektor pendukung. Rasionalisasi tenaga kerja di sektor pertanian, menurutnya, harus diiringi dengan pembangunan agroindustri, pariwisata pedesaan, dan industri manufaktur yang ramah lingkungan.  

Pada sektor perikanan, Rokhmin menilai teknologi juga krusial untuk menjaga keseimbangan antara kesejahteraan nelayan dan kelestarian sumber daya. Ia menyinggung pentingnya pembangunan kampung nelayan berbasis data stok ikan agar kapasitas penangkapan tetap terkendali.  

Selain itu, ia menyoroti lemahnya praktik penanganan hasil tangkap. Banyak nelayan belum menggunakan es atau fasilitas pendingin, sehingga kualitas ikan menurun sebelum sampai ke darat. Akibatnya, harga jual rendah dan pendapatan nelayan tergerus.  

Menurut Prof. Rokhmin, penerapan teknologi tidak boleh berhenti pada alat produksi, tetapi harus mencakup seluruh rantai nilai dari hulu hingga hilir. Tanpa pendekatan tersebut, Indonesia akan terus terjebak pada ekspor bahan mentah dan ketergantungan terhadap impor pangan.  

“Tanpa penggunaan teknologi yang tepat guna, saya pesimistis bangsa ini dapat lepas dari jebakan negara berpendapatan menengah,” tegas Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI).  

Prof. Rokhmin Dahuri menilai penguasaan teknologi pangan menjadi syarat mutlak agar Indonesia tidak hanya mencapai swasembada, tetapi juga berdaulat dalam menentukan arah pembangunan pangannya sendiri. Dengan inovasi yang menyeluruh, ia optimistis Indonesia mampu memperkuat kedaulatan pangan sekaligus membuka jalan menuju kesejahteraan yang lebih berkelanjutan.

Quote