Ikuti Kami

Bonnie Sebut Sejarawan Harus Melihat Banyak Kesaksian untuk Mendekati Kebenaran Sejarah

Bonnie mengibaratkan seorang sejarawan seperti orang yang hendak mengetahui sebuah kecelakaan.

Bonnie Sebut Sejarawan Harus Melihat Banyak Kesaksian untuk Mendekati Kebenaran Sejarah
Sejarawan yang juga Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Bonnie Triyana dalam Diskusi Sejarah Seputar Kemerdekaan Indonesia yang merupakan rangkaian kegiatan Pemeran Foto 124 Tahun Bung Hatta - Foto: Alvin/Gesuri.id

Jakarta, Gesuri.id — Sejarawan sekaligus Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Bonnie Triyana mengingatkan pentingnya menggunakan beragam sumber dan kesaksian dalam membaca sebuah peristiwa sejarah. Menurutnya, penggunaan hanya satu kesaksian berpotensi membuat penafsiran sejarah menjadi bias.

Pernyataan itu disampaikan Bonnie dalam Diskusi Sejarah Sekitar Proklamasi: 124 Tahun Bung Hatta di Taman Makam Bung Hatta, Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Rabu (12/8/2026) sore.

Bonnie mengibaratkan seorang sejarawan seperti orang yang hendak mengetahui sebuah kecelakaan. Jika hanya mendengar keterangan dari satu orang saksi, gambaran yang diperoleh belum tentu menggambarkan keseluruhan peristiwa.

Karena itu, menurut dia, sejarawan perlu melihat kesaksian dari berbagai sisi untuk memperoleh gambaran yang lebih mendekati apa yang benar-benar terjadi.

“Sebisa mungkin menggunakan kesaksian dari sisi-sisi yang berbeda, sehingga dia bisa mendekati kebenaran,” ujar Bonnie.

Ia menjelaskan, sejarah bukanlah upaya untuk menghadirkan kembali masa lalu secara persis seperti kenyataan yang pernah terjadi. Sejarawan memiliki tugas merekonstruksi masa lalu berdasarkan sumber-sumber yang tersedia dan kemudian menjelaskannya kepada publik secara kritis.

Bonnie menilai pendekatan semacam itu penting dalam membaca sejarah sekitar Proklamasi, termasuk dalam melihat peran Bung Hatta, Bung Karno, kelompok pemuda, serta berbagai kelompok lain yang terlibat dalam dinamika menjelang kemerdekaan.

Menurutnya, setiap tokoh dan kelompok memiliki perspektif serta kepentingan yang berbeda. Karena itu, pembacaan sejarah tidak boleh hanya bertumpu pada satu narasi.

“Sejarah tidak menampilkan kebenaran sebagai realitas masa lalu, tetapi sejarawan melakukan rekonstruksi terhadap apa yang ada di masa lalu,” katanya.

Bonnie berharap diskusi sejarah dapat mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak menerima narasi sejarah secara mentah. Sebaliknya, sejarah perlu dipelajari dengan membaca berbagai sumber, membandingkan kesaksian, dan memahami konteks zamannya.

Dengan cara itu, sejarah Indonesia dapat dipahami secara lebih objektif sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi generasi mendatang.

Quote