Ungaran, Gesuri.id - Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, mendorong para pelaku seni dan budaya untuk menciptakan karya yang tidak hanya mengedepankan estetika, tetapi juga memiliki kedalaman makna dan unsur komunikatif.
Samuel menegaskan bahwa seni seharusnya tidak berhenti pada ekspresi personal sang seniman.
“Jangan hanya seni untuk kesenangan. Seni harus memiliki makna agar masyarakat dapat memahami dan merasakan pesan yang ingin disampaikan. Seni harus mampu menjadi ‘makanan jiwa’ bagi publik,” ujar Samuel dalam sarasehan bersama Jejaring Kolektif Semarang Serasi di Hills Joglo Villa, Kabupaten Semarang, Sabtu (20/2).
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Sebagai contoh konkret, Samuel menyoroti keberadaan mural di Desa Lerep. Ia menyarankan agar karya visual tersebut dilengkapi dengan narasi singkat atau penjelasan kontekstual.
Ia bahkan mengusulkan integrasi teknologi untuk memperkaya pengalaman penikmat seni.
“Bisa memanfaatkan kode QR untuk memberikan informasi mengenai latar belakang karya. Ini penting agar pengunjung tidak hanya melihat keindahan, tapi juga menangkap pesan di dalamnya,” lanjutnya.
Politisi tersebut juga mengingatkan para seniman agar tidak terjebak dalam ego berekspresi. Menurutnya, di tengah tantangan bangsa yang kompleks, seni dan budaya harus hadir sebagai penyeimbang sosial yang menjadi kekayaan bersama.
Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, Dimas Herdy Utomo, menyambut baik kehadiran legislatif dalam forum ini. Ia menilai sosok Samuel Wattimena dapat menjadi jembatan untuk mengelaborasi kebutuhan akar rumput yang selama ini sering terhambat jarak komunikasi dengan pemerintah.
Baca: Ganjar Pranowo Tekankan Pentingnya Kritik
“Kehadiran Pak Samuel menjadi jembatan bagi kami. Banyak gagasan luar biasa dari komunitas yang perlu dipromosikan agar berdampak lebih luas. Kami berharap regulasi yang ada segera ditindaklanjuti melalui Peraturan Bupati (Perbup) agar dukungan terhadap ekosistem ekonomi kreatif semakin konkret,” kata Dimas.
Senada dengan hal tersebut, Koordinator Jejaring Kedungsepur Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, Tries Supardi, menekankan bahwa kreativitas saja tidak cukup. Para pelaku ekonomi kreatif (ekraf) perlu dibekali dengan kemampuan manajerial dan akses permodalan.
“Pelaku ekraf perlu dibekali keterampilan bisnis dan produktivitas agar mampu bertahan secara berkelanjutan. Pemerintah daerah hingga provinsi harus memfasilitasi pelatihan, pendampingan, hingga akses pendanaan yang konsisten,” pungkas Tries yang juga menjabat Ketua Semarang Creative Consortium.

















































































