Ikuti Kami

Samuel Wattimena Tegaskan Keragaman Nusantara adalah Jawaban Nyata atas Overtourism

Keseragaman tersebut justru memperparah penumpukan wisatawan atau overtourism di destinasi tertentu.

Samuel Wattimena Tegaskan Keragaman Nusantara adalah Jawaban Nyata atas Overtourism
Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menilai pendekatan pengembangan pariwisata yang memaksa setiap daerah meniru model Bali atau Yogyakarta merupakan langkah yang keliru.

\Menurutnya, keseragaman tersebut justru memperparah penumpukan wisatawan atau overtourism di destinasi tertentu.

​Solusi konkret atas fenomena overtourism sesungguhnya terletak pada kekayaan keragaman budaya, gaya hidup, serta kearifan lokal Nusantara yang selama ini belum dikelola secara serius.

​Hal itu ditegaskan Samuel usai Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi VII DPR RI bersama mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Publik FISIPOL Universitas Gadjah Mada (GAMAPI UGM) di Senayan, Jakarta, Rabu (24/6).

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

​"Di Kalimantan harus menjadi Kalimantan. Di Sumatera harus menjadi Sumatera. Kalau semua berusaha memberikan pelayanan dan wawasan seperti Bali dan Jogja, kenapa (wisatawan) jauh-jauh harus ke tempat itu?" ujar Samuel.

​Politisi ini menyayangkan respons terhadap overtourism selama ini yang cenderung reaktif—hanya menanggapi masalah yang sudah terjadi tanpa menyentuh akar persoalan. Oleh karena itu, ia mendorong generasi muda untuk mengubah cara pandang dari sekadar merespons dampak buruk visual komersial, menuju kesadaran aktif menggali dan mempromosikan ke autentikan daerah masing-masing.

​"Yang saya harapkan adalah mereka bisa membuka wawasan akan kekayaan negeri ini. Kalau kita bicara overtourism, kita sifatnya hanya reaktif terhadap apa yang sudah terjadi. Tapi apa solusinya?" tuturnya.

​Menurut Samuel, keunikan lokal seperti perbedaan kuliner, tradisi, hingga karakteristik fisik masyarakat antardaerah merupakan daya tarik wisata autentik yang tidak tertandingi oleh destinasi buatan. Setiap pulau di Indonesia secara historis telah memiliki kearifan lokal yang tumbuh dari lingkungan dan cara bertahan hidup masyarakatnya sendiri. Itulah yang harus dijadikan andalan, bukan disamakan.

​"Dengan keragaman Nusantara yang kita punya ini, munculkan dulu keunikan ini yang akan memonetisasi kita," tegas Samuel.

Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda

​Tantangan untuk Generasi Muda

​Secara khusus, Samuel mengajak mahasiswa GAMAPI UGM yang hadir untuk tidak berhenti pada tataran analisis akademis semata. Ia menantang mereka terlibat langsung dalam membangun narasi pariwisata daerah—sebuah peran strategis yang dinilai sangat cocok untuk generasi muda yang melek teknologi.

​"Saya ingin mengajak mereka untuk melihat kekayaan ini dan mengelolanya. Narasi menjadi penting dan ini harus dilakukan oleh generasi muda. Sebab, jika narasi tidak dibangun, objek-objek buatan akan jauh lebih mudah membuat narasi," jelasnya.

​Ia juga mengingatkan agar para mahasiswa tidak mendekati sektor pariwisata semata-mata dari kacamata ekonomi. Jika orientasi hanya terpaku pada keuntungan finansial sejak awal, segala sesuatu akan ditata secara artifisial, sehingga keunikan yang sesungguhnya justru akan terkorbankan.

​"Jangan fokus hanya pada masalah ekonomi. Ekonomi akan mengikuti kalau kita punya objek yang kuat untuk kita tampilkan," imbuhnya.

​Dalam forum tersebut, perwakilan mahasiswa GAMAPI FISIPOL UGM turut menyuarakan kekhawatiran mereka mengenai tergerusnya budaya lokal akibat tekanan wisata massal (mass tourism). Fenomena munculnya atraksi-atraksi buatan yang hanya bertahan satu hingga dua tahun karena tidak berakar pada kearifan setempat, diakui Samuel sebagai persoalan mendasar yang harus segera dibenahi.

​Kendati demikian, Samuel mengapresiasi inisiatif para mahasiswa yang meminta langsung pertemuan ini. Baginya, langkah tersebut menjadi sinyal positif bahwa generasi muda siap mengambil peran aktif dalam menentukan arah masa depan pariwisata Indonesia.

Quote