Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Sarifah Ainun Jariyah, menegaskan pentingnya peran perempuan dalam dunia politik, khususnya di parlemen, sebagai bagian dari pengambilan keputusan dan perjuangan keadilan.
“Sebagai perempuan di parlemen, kita sering dihadapkan pada banyak tantangan tak jarang suaranya dianggap sekadar pelengkap, atau kapasitasnya dipertanyakan. Namun justru di situlah kekuatan perempuan terlihat,” kata Sarifah dikutip Jumat (17/4).
Ia menilai, perempuan memiliki kemampuan yang tidak hanya terbatas pada satu peran, melainkan mampu berkontribusi dalam berbagai aspek kepemimpinan dan perubahan sosial.
“Perempuan bisa menjadi apa saja, menjadi pemimpin yang tegas, pendengar yang empatik, penggerak perubahan, sekaligus penjaga harapan banyak orang,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran perempuan di parlemen harus dipandang sebagai kekuatan strategis yang membawa perspektif baru, terutama dalam memperjuangkan keadilan bagi kelompok yang selama ini kurang terwakili.
“Di ruang parlemen, perempuan tidak hanya hadir sebagai pelengkap, tetapi sebagai pengambil keputusan, pembawa perspektif keadilan, dan suara bagi mereka yang sering tak terdengar,” tegasnya.
Sarifah juga menekankan bahwa kekuatan perempuan tidak hanya terletak pada ketegasan, tetapi juga pada ketahanan, keberanian, dan kepedulian yang menjadi ciri khas dalam menjalankan berbagai peran.
“Kekuatan perempuan bukan hanya tentang ketegasan, tetapi juga ketahanan, keberanian, dan kepedulian,” bebernya.
Ia menambahkan, pengalaman perempuan dalam menjalani berbagai peran kehidupan menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan di ruang publik dan politik.
“Karena perempuan terbiasa menghadapi banyak peran menjadi Ibu bagi anak-anaknya, mentaati suami, hingga bekerja dan tetap berdiri kuat,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kehadiran perempuan di parlemen merupakan bukti nyata bahwa perempuan mampu memimpin dan memperjuangkan kepentingan masyarakat luas.
“Perempuan di Parlemen menjadi bukti bahwa: perempuan bisa memimpin, bisa memperjuangkan, dan siap menghadapi apa pun demi masa depan yang lebih adil,” katanya.
Ia pun menutup dengan menekankan bahwa perjuangan perempuan di parlemen bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga membawa harapan bagi masa depan yang lebih inklusif.
“Karena ketika perempuan berdiri di parlemen, yang diperjuangkan bukan hanya kebijakan tetapi juga harapan,” pungkasnya.

















































































